DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Strategi Pengelolaan Budidaya Karamba Jaring Apung Berkelanjutan di Waduk Riam Kanan Provinsi Kalimantan Selatan
PENGARANG:MUHAMMAD NUR
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2021-09-01


Budidaya perairan berkembang pesat seiring peningkatan kebutuhan pangan masyarakat, termasuk budidaya karamba jaring apung (KJA) di Waduk Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Budidaya KJA memberikan dampak positif karena menyediakan lapangan kerja dan merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak negatif karena kegiatan ini menghasilkan limbah yang dapat mencemari perairan. Penurunan kondisi ekologi perairan akibat budidaya KJA berpotensi mempengaruhi keberlanjutan pemanfaatan waduk termasuk untuk budidaya KJA itu sendiri. Adanya manfaat sekaligus potensi kerugian akibat budidaya KJA perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi pengelolaan, oleh karena itu diperlukan strategi pengelolaan yang baik didukung data kondisi eksisting yang memadai untuk menjamin tercapainya budidaya KJA yang berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi kondisi eksisting ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum-kelembagaan; menilai keberlanjutan; serta merumuskan strategi pengelolaan budidaya KJA berkelanjutan di Waduk Riam Kanan.

Penelitian dilaksanakan di Waduk Riam Kanan Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian dibagi dalam 3 tahapan yaitu: Mei s/d Desember 2019 untuk penelitian kondisi eksisting, Januari s/d Februari 2020 untuk penelitian keberlanjutan, dan September s/d November 2020 untuk penelitian dalam rangka perumusan strategi pengelolaan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survey, wawancara dan studi pustaka dengan pendekatan analisis deskriftif untuk menggambarkan kondisi eksisting, analisis Rap-KJARK untuk menentukan status dan atribut pengungkit keberlanjutan, serta Analitycal Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi pengelolaan budidaya KJA di Waduk Riam Kanan.

Kondisi eksisting pengelolaan Waduk Riam Kanan jika dilihat dari dimensi ekologi adalah; tidak tersedianya zonasi,  pemanfaatan melebihi daya dukung pada tingkat kesuburan mesotrofik, sebaran unit KJA yang tidak proporsional, status mutu air tercemar sedang dan penggunaan jenis ikan budidaya yang seluruhnya merupakan jenis ikan introduksi. Kondisi eksisting dimensi ekonomi dapat dilihat dari kelayakan budidaya KJA dengan kategori layak usaha, pendapatan pekerja budidaya diatas rata-rata UMR, kontribusi sektor terhadap PDRB tinggi, pemasaran hasil cukup mudah meskipun harga jual sedikit berfluktuasi, kepemilikan unit KJA dominan oleh penduduk lokal, ketergantungan subsidi yang rendah, dan masih banyak tersedia alternatif pekerjaan selain budidaya KJA. Kondisi eksisting dimensi sosial dapat dilihat dari jumlah RTP budidaya, tingkat pendidikan dan pengalaman pembudidaya KJA yang termasuk kriteria sedang, tingkat ketersuluhan dan pengetahuan rendah tetapi memiliki persepsi yang baik terhadap kelestarian lingkungan, dan ada potensi konflik tetapi tidak pernah/jarang terjadi. Gambaran dimensi teknologi adalah; pembudidaya KJA cukup baik dalam penerapan teknologi ramah lingkungan dan penanggulangan HPI, mudah mendapatkan benih meskipun tidak berasal dari unit pembenihan bersertifikat CPIB, mudah mendapatkan pakan meskipun tingkat efisiensinya masih rendah,  mudah mendapatkan  saprodi dan cukup mudah dalam mengakses informasi. Gambaran dimensi hukum-kelembagaan; belum terkoordinasinya pengelolaan waduk antara pihak lembaga pengelola dengan instansi terkait, tidak lengkapnya aturan  pengelolaan, tidak terjadwalnya kegiatan pemantauan, serta kurang efektifnya peran lembaga-lembaga sosial masyarakat, keuangan, pemasaran dan penyuluhan

Status keberlanjutan multidimensi pengelolaan budidaya KJA di Waduk Riam Kanan adalah cukup berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar 52,39. Status keberlanjutan berdasarkan masing-masing dimensi adalah; kurang berkelanjutan pada dimensi ekologi, sosial dan hukum-kelembagaan dengan nilai indeks berturut-turut sebesar 35,32; 44,03; 43,42, cukup berkelanjutan pada dimensi teknologi dengan nilai indeks 54,22, dan berkelanjutan pada dimensi ekonomi dengan nilai indeks 84,96. Faktor pengungkit keberlanjutan terdiri dari zonasi, daya dukung, fluktuasi harga, pemasaran hasil, tingkat ketersuluhan, efisiensi pakan, kualitas benih dan aturan pengelolaan. Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan faktor pengungkit keberlanjutan adalah; tidak tersedianya zonasi budidaya KJA, pemanfaatan KJA melebihi daya dukung, harga jual ikan budidaya sedikit berfluktuasi, kesulitan pemasaran bagi sebagian pembudidaya, rendahnya tingkat ketersuluhan, tidak efisiennya pemberian  pakan, penggunaan benih tidak berkualitas serta tidak tersedianya aturan yang memadai untuk pengelolaan berkelanjutan.

Urutan prioritas dimensi dalam rangka penentuan strategi pengelolaan adalah ekologi (28,3%), hukum-kelembagaan (26,8%), sosial (16,9), teknologi (14,8%) dan ekonomi (13,2%), sedangkan urutan prioritas alternatif strategi pengelolaan adalah pembuatan aturan pengelolaan terkait zonasi perairan, status trofik dan batasan jumlah KJA (28,3%), peningkatan kapasitas SDM pembudidaya KJA (21,3%), peningkatan pengawasan dan pengendalian sumber beban pencemaran perairan waduk (21,0%), peningkatan sertifikasi mutu benih ikan (16,9%), dan optimalisasi kelembagaan pemasaran (12,5%).

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI