DIGITAL LIBRARY



JUDUL:MINAWISATA PERIKANAN AIR PAYAU DI DESA SUNGAI CUKA TANAH LAUT
PENGARANG:RAYHANI FAHMA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2021-09-16


ABSTRAK

Kawasan pertambakan air payau di Desa Sungai Cuka dahulu merupakan lokasi tambak yang banyak menghasilkan ikan air payau seperti Ikan Bandeng (Chanos chanos), Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Belanak (Mugil cephalus), Kepiting Bakau (Scylla serrata), Kakap Putih (Lates calcarifer), dan lain-lain. Pertambangan batubara mulai dibuka di hulu sungai muara sehingga limbah batubara terbawa ke arah hilir dan mencemari air tambak yang menyebabkan hasil tambak mati. Hal ini berdampak pada penghasilan petambak yang mulai menurun, akhirnya mereka memutuskan meninggalkan tambak untuk mencari pencaharian lain. Sehingga permasalahan yang diangkat adalah bagaimana mendesain kawasan rekreasi edukasi pertambakan air payau dengan pendekatan lokalitas kawasan? Penulisan ini bertujuan untuk mengembalikan aktivitas penambakan di Desa Sungai Cuka Tanah Laut sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kawasan pertambakan dan permukiman yang telah mati yang didukung oleh kondisi air tambak yang telah bebas dari pencemaran limbah batubara. Langkah untuk  mencapai tujuan yaitu dengan merancang kawasan minawisata perikanan air payau berbasis wisata rekreasi edukasi. Adapun metode yang diterapkan yaitu pendekatan arsitektur kontekstual yang diharapkan dapat mempertahankan ciri khas kawasan pesisir, dapat memperbaharui citra kawasan pertambakan yang perlahan mulai menghilang, dan menjadi kawasan wisata rekreasi dan edukasi perikanan.

Kata kunci: Minawisata, Tambak, Ikan air payau, Rekreasi, Edukasi, Arsitektur kontekstual

ABSTRACT

The brackish water aquaculture area in Sungai Cuka Village used to be the location of a pond that produced a lot of brackish water fish such as Milkfish (Chanos chanos), Windu Shrimp (Penaeus monodon), Mullet (Mugil cephalus), Mangrove Crab (Scylla serrata), White Snapper ( Lates calcarifer), and others. Coal mining has begun to be opened in the upstream of the estuary so that coal waste is carried downstream and pollutes the pond water which causes the ponds to die. This has an impact on the income of the fishermen who began to decline, finally they decided to leave the pond to look for other livelihoods. So the problem raised is how to design a brackish water aquaculture educational recreation area with a regional locality approach? This writing aims to restore aquaculture activities in Sungai Cuka Tanah Laut Village as an effort to revive dead aquaculture areas and settlements supported by pond water conditions that are free from coal waste pollution. The step to achieve the goal is to design a brackish water fishery tourism area based on educational recreation tourism. The method applied is a contextual architectural approach which is expected to maintain the characteristics of the coastal area, can renew the image of the aquaculture area which is slowly disappearing, and become a recreational tourism and fisheries education area.

Keywords: Tourism, pond, Tambak, Brackish Water Fish, Recreation, Education, Contextual Architecture

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI