DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | REDESAIN KAWASAN WISATA RAWA DESA BANYU HIRANG | |
| PENGARANG | : | NURKHALISHAH AFIFAH -1014 | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2021-09-16 |
ABSTRAK
Kondisi Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai daerah yang didominasi lahan rawa dapat menjadi suatu potensi menarik yang diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Salah satu wilayah yang dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata rawa yaitu Desa Banyu Hirang. Namun sayangnya, pemanfaatan wilayah desa sebagai destinasi wisata rekreasi berbasis lahan rawa masih kurang. Potensi masyarakat dalam menghasilkan produk UMKM berupa kerajinan anyaman purun dan eceng gondok juga perlu diapresiasi sehingga dapat menjadi salah satu sentra kerajinan anyaman yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Perancangan objek wisata rawa ini bertujuan untuk melestarikan dan mengenalkan kepada wisatawan mengenai potensi serta pemanfaatan sumber daya alam yang ada di lahan rawa dalam membantu perekonomian masyarakat. Metode penyelesaian masalah dalam perancangan ini berfokus pada pendekatan 3 aspek arsitektur kontekstual rawa yaitu visual, kegiatan dan lingkungan dengan 5 prinsip pengembangan ekowisata yaitu pelestarian, pengetahuan, pariwisata, partisipasi masyarakat, dan ekonomi. Hubungan antara aspek kontekstual rawa dengan prinsip ekowisata menghasilkan kawasan wisata yang berkesinambungan dengan lingkungan rawa, dimana tatanan masa dibagi menjadi beberapa zona yaitu zona penerimaan, zona pelayanan, zona transisi, zona edukasi, zona rekreasi, zona kuliner dan zona relaxing. Perencanaan masing – masing zona diharapkan dapat menciptakan suatu karakter khusus lahan rawa yang dapat memberikan keserasian dengan lingkungan alam sekitarnya.
Kata Kunci : Wisata Rawa, Desa Banyu Hirang, Ekowisata, Kontekstual
ABSTRACT
The condition of Hulu Sungai Utara Regency as an area dominated by wetland can be an interesting potential that is expected to attract tourists to visit. One of the areas that can be developed into a wetland tourism area is Banyu Hirang Village. But unfortunately, the utilization of the village area as a recreational tourist destination based on wetland is still lacking. The potential of the community in producing UMKM products in the form of woven handicrafts purun and water hyacinth also needs to be appreciated so that it can be one of the centers of woven handicrafts in Hulu Sungai Utara Regency. The design of this wetland tourist attraction aims to preserve and introduce to tourists about the potential and utilization of natural resources in wetland in helping the economy of the community. The method of problem solving in this design focuses on the approach of 3 aspects of wetland contextual architecture, namely visual, activity and environment with 5 principles of ecotourism development, namely conservation, knowledge, tourism, community participation, and economy. The relationship between the contextual aspects of wetland and the principle of ecotourism produces sustainable tourist areas with wetland environments, where the time order is divided into several zones, namely reception zones, service zones, transition zones, educational zones, recreation zones, culinary zones and relaxing zones. Planning each zone is expected to create a special character of wetland that can provide harmony with the surrounding natural environment.
Keywords: Wetland Tourism, Banyu Hirang Village, Ecotourism, Contextual
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI