DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Perbandingan Kecepatan Memulai Kompresi Dada pada CPR antara Instruksi Psnggilan Suara dan Video Call Berbahasa Indonesia | |
| PENGARANG | : | SITI ROHIMAH -994 | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2021-12-31 |
Latar Belakang: Henti jantung merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering mengancam jiwa. Berdasarkan lokasi kejadiannya, OHCA lebih berbahaya dibandingkan dengan IHCA. American Heart Association menyarankan peningkatan peran masyarakat sebagai penolong awam untuk meningkatkan angka harapan hidup korban OHCA, sehingga sangat diperlukan layanan EMS jarak jauh yang dapat mengarahkan para penolong awam yang tidak terlatih.
Tujuan: Untuk membandingkan kecepatan waktu mulai kompresi dada yang dilakukan oleh penolong awam pada saat diinstruksikan melalui video call dan panggilan suara berbahasa Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan hasil sampel sebanyak 40 rekaman yang terdiri dari 20 rekaman instruksi RJP melalui video call dan 20 rekaman melalui panggilan suara.
Hasil: Hasil uji menggunakan Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam kecepatan waktu mulai kompresi dada antara kelompok yang diberikan instruksi melalui video call dengan panggilan suara berbahasa Indonesia (p = 0,000).
Diskusi: Pemberian instruksi secara jarak jauh terhadap penolong awam melalui video call lebih baik dibandingkan melalui panggilan suara dalam faktor kecepatan waktu. Namun, disarankan untuk memperhatikan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi agar metode ini dapat dijadikan alternatif dalam peningkatan kualitas pelayanan CPR.
Kata kunci: kecepatan waktu, kompresi dada, CPR, panggilan suara, panggilan video
ABSTRACT
Background: Cardiac arrest is an emergency that is often life-threatening.Based on the location of the incident, OHCA is more dangerous than IHCA. The American Heart Association recommends increasing the role of the community as by-standers to increase the life expectancy of OHCA victims, so there is a need long-distance EMS that can direct untrained lay rescuers.
Objective: To compare the speed of starting chest compressions performed by lay rescuers when instructed through video calls and voice calls in Indonesian.
Method: This research used an analytical descriptive design. The sampling technique used is total sampling with a sample of 40 records consisting of 20 recordings of CPR instructions via video calls and 20 recordings via voice calls.
Results: The results of the test using Mann Whitney showed that there was a significant difference in the speed of starting chest compressions between the groups who were given instructions via video call and voice calls in Indonesian (p= 0.000).
Discussion: Giving instructions remotely to lay rescuers through video calls is better than voice calls in the speed of time factor. However, it is advisable to pay attention to other factors that can be affect it, so this method can be used as an alternative in improving the quality of CPR services.
Keywords: time speed, chest compression, CPR, voice call, video call
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI