DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM TINDAK TUTUR DIREKTIF DI GELAR WICARA MATA NAJWA “COBA-COBA TATAP MUKA” | |
| PENGARANG | : | SARI MULIANI HELDA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2022-07-21 |
Kekuasaan tidak pernah terlepas dari permasalahan, baik pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, pendidikan, maupun politik. Kekuasaan dapat dikatakan juga sebagai sumber pengaruh untuk memengaruhi orang di sekitarnya. Oleh karena itu, kekuasaan merupakan hal yang penting untuk dimiliki seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi kekuasaan dalam tindak tutur direktif pada gelar wicara Mata Najwa “Coba-Coba Tatap Muka”
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif-deskriptif. Sumber data yang digunakan ialah tuturan pembicara. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf yang memuat informasi representasi kekuasaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah simak-catat dari Azwardi. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis percakapan dari Yule yang mengkaji tata urutan pembicaraan, sikap, dan keinginan yang dimiliki. Data tersebut dikelompokkan sesuai dengan pandangan Bach dan Harnish, yakni tindak tutur direktif permintaan, pertanyaan, persyaratan, larangan, persilaan, dan nasihat. Selanjutnya, data tersebut dianalisis kekuasaannya sesuai dengan pandangan French dan Raven, yakni reward power, coersive power, legitimate power, expert power, dan referent power.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) representasi kekuasaan yang berhubungan dengan keuntungan (reward power) menetapkan bahwa pembawa acara memiliki kekuasaan yang berhubungan dengan keuntungan; 2) representasi kekuasaan yang berhubungan dengan hukuman (coersive power) tidak ditemukan; 3) representasi kekuasaan yang berhubungan dengan posisi (legitimate power) menetapkan bahwa pembawa acara paling sering memanfaatkan posisinya untuk melakukan tindak tutur direktif; 4) representasi kekuasaan yang berhubungan dengan kepakaran (expert power) menetapkan bahwa beberapa narasumber memiliki pendidikan yang tinggi; 5) representasi kekuasaan yang berhubungan dengan karisma (referent power) menetapkan bahwa Gubernur Jawa Tengah diyakini memiliki karisma dan dapat memengaruhi narasumber lain
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI