DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Uji Lapang Aplikasi Trichoderma sp dan PGPR dalam Menekan Kejadian Penyakit Antraknosa pada Cabai Rawit Hiyung
PENGARANG:MUFFIZAR DARMAWAN ADIYATAMA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2023-01-16


  1. MUFFIZAR DARMAWAN ADIYATAMAUji lapang Trichoderma spdan PGPR dalam menekan kejadian penyakit antraknosa pada cabai rawit hiyungdibimbing oleh Ibu Mariana dan BapakIsmed Setya Budi.

    Cabai rawit hiyung adalah salah satu cabai rawit lokal berasal dari Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah secara resmi terdaftar pada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama pada tanaman cabai yang sangat merugikan karena penyakit ini menyebabkan busuk pada buah cabai sehingga sangat menurunkan nilai jual  hasil panennya.

    Penelitian ini bertujuan untuk uji lapang isolat Trichoderma spdan PGPR serta kombinasinya dalam menekankejadian penyakit antraknosa pada cabai hiyung di Desa Hiyung Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Penelitianinidilaksanakan di lahan rawa pada pertanaman cabai hiyung, Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan Mei sampai Oktober 2021.

    Penelitian ini disusun menggunakan rancangan lingkungan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari 4 (empat) perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang 4 (empat) kali. Tiap satuan percobaan ada 3 tanaman, sehingga jumlah tanaman yang diamati adalah 48 tanaman (4 x 4 x 3). Empat perlakuan yang diuji adalah (1) Kontrol, (2) AplikasiTrichoderma sp, (3) Aplikasi PGPR dan (4) Aplikasi Trichoderma sp dan PGPR. Trichoderma sp diisolasi dari lahan rawa Desa Hiyung, PGPR dibuat dari bakteri yang berasal dari akar bambu.

    Aplikasi PGPR dapat menurunkan kejadian penyakit antraknosa dengan efektivitas pengendalian sebesar 57,90% yang membuktikan bahwa apikasi PGPR cukup efektif, sedangkan perlakuan Trichoderma sp (36,00%) dan perlakuan Trichoderma sp + PGPR (33,65%) kurang efektif dalam menurunkan kejadian penyakit antraknosa pada cabai hiyung di lahan rawa Desa Hiyung.

    Perlunya dilakukan penelitian tentang faktor penyebab terjadinya  penurunan efektivitas PGPR, Trichoderma sp dan PGPR dikombinasikan dengan Trichoderma sp dalam menginduksi ketahanan tanaman dan kemampuannya dalam menghasilkan hormon pemacu pertumbuhan tanaman cabai hiyung di lahan rawa.
Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI