DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | MODEL AKSES PASAR KOMODITAS PISANG KEPOK (Musa acuminata balbisiana Colla) DI KABUPATEN SERUYAN | |
| PENGARANG | : | ROKHMAN PERMADI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2023-02-24 |
Masalah akses pasar merupakan masalah yang dihadapi oleh petani terutama petani kecil di pedesaan termasuk juga petani pisang kepok di Kabupaten Seruyan. Padahal, akses pasar merupakan hal yang tidak kalah penting selain masalah produksi. Melalui pasar, petani dapat mengkonversi produk yang dihasilkan menjadi manfaat ekonomi sehingga berkontribusi bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani. Sulitnya mengakses pasar membuat kebanyakan masyarakat pedesaan tidak dapat memperbaiki taraf hidup mereka. Membangun sebuah model akses pasar merupakan sebuah solusi untuk mengkaji hubungan antara variabel yang mempengaruhi akses pasar petani. Model digunakan untuk dapat memberikan gambaran spesifik dan memberikan pemahaman serta wawasan dari keadaan sebenarnya di dunia nyata. Melalui pemodelan memungkinkan untuk mempelajari bagaimana sistem prospektif akan bekerja sebelum benar-benar diterapkan pada sistem riil di lapangan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian disertasi ini adalah : 1). Menganalisis pola saluran pemasaran pisang kepok di Kabupaten Seruyan, 2). Menganalisis efisiensi pemasaran pisang kepok di Kabupaten Seruyan, 3). Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi akses pasar petani, pisang kepok di Kabupaten Seruyan, 4). Membangun model akses pasar pada usahatani pisang kepok di Kabupaten Seruyan.
Penelitian ini dilaksanakan Kabupaten Seruyan Propinsi Kalimantan Tengah. Metode sampling yang digunakan untuk petani pisang kepok yaitu sampling acak (random sampling) dan telah ditetapkan sebanyak 254 responden. Sedangkan untuk sampel pedagang mengunakan metode sampling bola salju (snowball sampling) dan telah ditemukan sampel pedagang pengepul sebanyak 13 orang, pedagang besar sebanyak 26 orang, dan pedagang pengecer sebanyak 110 orang. Analisis deskriptif dan ekonometrik menggunakan parsial least square-structural equation modelling (PLS-SEM) telah digunakan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini.
Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 8 pola saluran pemasaran pisang kepok yang terbagi ke dalam 2 wilayah penyaluran yaitu penyaluran lokal dan luar daerah. Adapun delapan pola saluran pemasaran yang terbentuk yaitu : (1) pola saluran pemasaran I distribusi langsung dari petani ke konsumen lokal; (2) pola saluran pemasaran II dari petani ke konsumen lokal melalui pedagang pengecer lokal; (3) pola saluran pemasaran III dari petani ke konsumen lokal melalui pedagang besar lokal; (4) pola saluran pemasaran IV dari petani ke konsumen lokal melalui pedagang besar lokal dan pedagang pengecer lokal; (5) pola saluran pemasaran V dari petani ke konsumen luar kota melalui pengepul, pedagang besar luar kota dan pengecer luar kota; (6) pola saluran pemasaran VI dari petani ke konsumen luar kota melalui pengepul dan pedagang besar luar kota; (7) pola saluran pemasaran VII dari petani ke konsumen luar kota melalui pedagang besar luar kota dan pengecer luar kota (tanpa perantara pedagang pengepul); dan (8) pola saluran pemasaran VIII dari petani ke konsumen melalui pedagang besar luar kota (tanpa perantara pedagang pengepul). Secara keseluruhan berdasarkan analisis struktur, perilaku, dan kinerja pasar (SCP), pasar lokal dan pasar luar daerah dapat dinilai efisien, kecuali ketika terdapat keterlibatan pedagang pengepul, maka pemasaran pisang kapok di luar daerah tidak efisien. Meskipun demikian, pasar lokal belum mampu menampung semua hasil produksi petani. Sedangkan jika dilihat dari efisiensi pemasaran secara ekonomis dari masing-masing saluran pemasaran yang terbentuk, maka saluran pemasaran yang paling efisien secara berturut-turut adalah saluran pemasaran I, saluran pemasaran VIII, saluran pemasaran VIb, saluran pemasaran VIc, saluran pemasaran III, saluran pemasaran IV, saluran pemasaran VIa, saluran pemasaran Vb, saluran pemasaran II, saluran pemasaran Va, saluran pemasaran Vc, dan saluran pemasaran VII.
Faktor-faktor yang berpengaruh negatif terhadap akses pasar yaitu pengaruh langsung dari biaya transportasi dan pengaruh tidak langsung dari jarak ke pasar. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap akses pasar yaitu pengaruh langsung dari keikutsertaan dalam asosiasi pertanian, kemudahan akses informasi pasar, kemudahan akses pembiayaan, kepemilikan alat transportasi, ketersediaan akses internet, ketersediaan informasi pasar, ketersediaan sarana penyimpanan, luas lahan, dan pengaruh tidak langsung dari kemampuan berkomunikasi, kepemilikan telepon seluler, dan kemampuan menggunakan sarana komunikasi. Berdasarkan model definitif atau model akhir yang terbangun, ketersediaan informasi pasar merupakan variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap akses pasar pisang kepok oleh petani responden. Ketersediaan informasi pasar juga menyebabkan mudah tidaknya petani dalam mengakses informasi pasar yang akan digunakan petani dalam pengambilan keputusan apakah akan berpartisipasi di pasar atau tidak. Selanjutnya, variabel pembatas kedua yang juga memiliki pengaruh yang terbesar adalah biaya transportasi sebagai akibat dari jauhnya jarak antara petani dengan pasar yang bernilai tinggi. Namun, kepemilikan alat transportasi dapat menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan akses petani ke pasar karena biaya dapat ditekan. Di sisi lain, faktor internal petani seperti variabel kemampuan berkomunikasi dan kemampuan menggunakan sarana komunikasi juga merupakan factor pendukung yang dapat mempermudah akses informasi pasar dan akses pembiayaan guna mempermudah akses petani terhadap pasar.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI