DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP COSPLAYER BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | RAHMA NOVITA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2024-07-30 |
Rahma Novita, 2024. Pelecehan Seksual Terhadap Cosplayer Banjarmasin Kalimantan Selatan. Skripsi Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing Laila Azkia.
Kata Kunci: Pelecehan Seksual, Bentuk Pelecehan Seksual, Upaya Pertahanan Diri, Cosplayer
Pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja serta pelaku berupa orang yang dikenal maupun tidak dikenal. Termasuk terjadi pada Cosplayer Kota Banjarmasin di Festival Jepang dan media sosial yang mereka gunakan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bentuk-bentuk pelecehan seksual yang diterima oleh Cosplayer Kota Banjarmasin; dan (2) mengetahui upaya pertahanan diri yang dilakukan oleh cosplayer untuk mencegah pelecehan seksual terulang kembali.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang Cosplayer Kota Banjarmasin yaitu, tiga orang dari komunitas yang sama,dua orang dari grup idol yang sama, dan satu orang yang tidak bergabung dalam komunitas atau grup sejenis yang pernah mengalami pelecehan seksual dengan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan.
Penelitian menunjukkan, (1) bentuk pelecehan seksual yang dialami cosplayer terbagi menjadi dua. Pertama pelecehan seksual secara fisik dengan menyentuh area privasi korban seperti pinggang dan pinggul. Kedua, pelecehan seksual non-fisik yaitu, unwanted attentional from men atau perhatian yang tidak diinginkan dari laki-laki, dan cyber harrasment atau pelecehan seksual di media sosial. (2) Upaya pertahanan diri yang dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual agar tidak terulang kembali terbagi menjadi dua. Pertama upaya preventif dengan menepis tangan pelaku, meminta bantuan orang sekitar, tidak sendirian, dan menghindari daerah yang sepi. Kedua, upaya represif yaitu dengan melaporkan ke pihak berwenang dan menyebarkan informasi tentang pelecehan yang dilakukan oleh pelaku di media sosial.
Penelitian ini disarankan untuk pihak panitia Festival Jepang dan ketua komunitas serta grup idol diharapkan dapat memberikan upaya pencegahan tindak pelecehan seksual yang harus dilakukan agar terciptanya lingkungan yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI