DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | HARMONI BUDAYA DALAM RASA: AKULTURASI BUDAYA TIONGHOA-BANJAR PADA KULINER DI KOTA BANJARMASIN | |
| PENGARANG | : | MUHAMMAD WILLIAM SYABANI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-01-29 |
Muhammad William Syabani. 2024. Harmoni Budaya Dalam Rasa: Akulturasi Budaya Tionghoa-Banjar pada Kuliner di Kota Banjarmasin. Skripsi, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (Dimbimbing oleh Arif Rahman Hakim).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya campuran unsur-unsur kebudayaan Tionghoa-Banjar yang mengindikasikan adanya akulturasi yang terjadi antara budaya Tionghoa dengan Banjar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kuliner-kuliner di Banjarmasin yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, mengetahui bentuk akulturasi budayanya, dan mengetahui mengapa serta bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Metode yang digunakan dalam penilitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi terus terang dan non-partisipan, wawancara mendalam semi terstruktur, studi literatur, serta dokumentasi.
Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori 4 strategi akulturasi oleh John W. Berry, yang mana teori ini membantu dalam menjelaskan mengapa dan bagaimana akulturasi budaya tersebut bisa terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya akulturasi budaya yang terjadi pada kuliner Tionghoa-Banjar di kota Banjarmasin. Akulturasi itu dapat terjadi karena adanya kontak budaya antara Tionghoa dan Banjar di masa lalu yang berujung pada pembauran dan interaksi budaya antar kedua kelompok tersebut. Terdapat bentuk kuliner yang berasal dari kebudayaan Tionghoa seperti Jao To dan Mie yang kemudian mengalami perubahan karena adanya pengaruh budaya Banjar sehingga memunculkan kuliner baru seperti Soto Banjar dan Mie Habang. Ada pula kuliner baru yang tercipta melalui perpaduan budaya Tionghoa dan Banjar, yaitu Sup Mutiara. Selain itu, beberapa tradisi Tionghoa seperti Cap Go Me, Ritual Keagamaan, dan Ceng Beng juga dipengaruhi oleh budaya kuliner Banjar dengan adanya Lontong Cap Go Me dan penggunaan wadai banjar sebagai sesajian. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya Tionghoa memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk budaya kuliner di kota Banjarmasin, dan budaya kuliner Banjar juga memiliki pengaruh terhadap tradisi-tradisi Tionghoa. Akulturasi tidak hanya terjadi karena orang-orang Tionghoa yang ingin berbaur, akan tetapi juga karena adanya penerimaan dari orang-orang Banjar di masa lalu. Masyarakat Banjar yang terbuka dan inklusif membuat kota Banjarmasin menjadi kota multikultural yang kita ketahui saat ini.
Kata Kunci: Akulturasi, Kuliner, Tionghoa-Banjar.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI