DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Analisis Neraca Air Pada Lahan Gambut Untuk Mitigasi Kebakaran Hutan Lindung Liang Anggang
PENGARANG:MUHAMMAD MAULANA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-02-18


Salah satu provinsi di Indonesia yang terdapat lahan gambut adalah provinsi Kalimantan Selatan yakni di Hutan Lindung Liang Anggang yang menjadi perhatian khusus dikarenakan kondisi sebagian yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang mengakibatkan lahan gambut menjadi kering dan rusak sehingga rawan terbakar. Kekeringan juga diakibatkan oleh ketidakseimbangan air yang ada di lahan atau disebut dengan neraca air. Beberapa penelitian telah melakukan analisis neraca air dengan metode yang berbeda, namun belum mempertimbangkan indeks kekeringan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi neraca air khususnya di lahan gambut. Indeks kekeringan adalah kuantitas yang berhubungan dengan mudah terbakarnya bahan organik di dalam tanah. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu metode neraca air untuk manajemen pengelolaan kebakaran di suatu lahan dengan mempertimbangkan indeks kekeringan di lokasi tersebut. Analisis neraca air khusus untuk lahan gambut menggunakan persamaan Thompson 2014 dengan mempertimbangkan faktor curah hujan yang didapat dari Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor tahun 1973-2024 sebagai inflow, evapotranspirasi potensial, intersepsi, dan muka air tanah didekati dengan selisih antara nilai rerata indeks kekeringan sebagai outflow. Hasil penelitian menunjukkan neraca air berbasis indeks kekeringan berdasarkan sifat fisik gambut fibrik terjadi defisit air tertinggi pada Bulan September sebesar 49,2 mm/bulan dan surplus air tertinggi pada Bulan Februari sebesar 176,1 mm/bulan. Neraca air berbasis indeks kekeringan berdasarkan tutupan lahan tinggi, sedang dan bare terjadi defisit air tertinggi pada Bulan September dan Oktober masing-masing sebesar 44,8 mm/bulan, 38,9 mm/bulan, dan 49,0 mm/bulan. Sedangkan surplus air tertinggi untuk tutupan lahan tinggi, sedang dan bare terjadi pada Bulan Februari masing-masing sebesar 170,4 mm/bulan, 196,4 mm/bulan, dan 215,6 mm/bulan. Hasil perhitungan diperkuat dengan pengukuran geolistrik resistivitas, pengamatan muka air tanah, pengukuran infiltrasi, dan pemantauan titik api.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI