DIGITAL LIBRARY



JUDUL:PENGARUH GEL EKSTRAK KULIT BATANG ULIN (Eusideroxylon zwageri) KONSENTRASI 5%, 12,5%, 20% TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS (Penyembuhan Luka Insisi Mukosa Bukal Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus))
PENGARANG:MUHAMMAD WAFFA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-05-19


Rongga mulut merupakan tempat masuknya berbagai macam mikroba.Mukosa mulut adalah benteng pertahanan dari masuknya bakteri akan tetapi bakteri dapat masuk jika terdapat luka.Luka merupakan suatu keadaan terputusnya kesinambungan dari kulit normal. Tindakan di bidang kedokteran gigi seringkali dapat menimbulkan luka, salah satu jenis luka adalah luka sayat.Tubuh akan merespon jika terjadi luka dengan 4 fase yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling.Proliferasi merupakan tahap aktif untuk memulihkan dan membentuk jaringan baru. Fibroblas adalah sel paling penting yang muncul pada hari ke-3 terus meningkat pada hari ke-5 dan mengalami puncaknya pada hari ke-7. Fibroblas berperan dalam pembentukan jaringan baru dengan mensistes kolagen.Obat yang sering digunakan pada luka sayat adalah povidone yang jika digunakan secara berlebihan dapat mengakibatkan iritasi, gatal, rasa nyeri. Penggunaan obat dari bahan herbal semakin diminati karena efek samping yang lebih minim, salah satu tumbuhan khas Kalimantan yang bisa dijadikan bahan obat herbal adalah ulin. Ulin (Eusideroxylon zwageri) telah digunakan masyarakat secara tradisional sebagai obat dan rebusan kayunya untuk mengobati sakit gigi.Ekstrak kulit batang ulin memiliki sifat antibakteri dalam kadar bakteriostatik dan bakterisida dan juga tidak bersifat toksik pada hewan uji coba. Metabolit sekunder yang terkandung dalam kulit batang ulin adalah Proantosianidin 183,30 mg PE/g, Fenolik 31,28mgGAE/g, dan Flavonoid 30,48mgCE/g. Senyawa Senyawa tersebut berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan, antibakteri yang akan memicu proliferasi dari sel fibroblas dan mempercepat proses penyembuhan luka.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan posttest-only with control group design. Penelitian ini menggunakan 36 ekor tikus wistar jantan (berat badan 200-250g dan umur 2-3 bulan) yang dibagi menjadi 12 kelompok yang terdiri dari 9 kelompok perlakuan dengan konsentrasi 5%, 12,5%, 20% dan 3 kelompok kontrol (basis gel) selama 7 hari berturut-turut. Hewan diberi perlakuan dengan membuat perlukaan pada mukosa bukal kanan tikus. Kemudian luka diaplikasikan dengan cotton buds sebanyak dua kali sehari. Kemudian dilakukan pembuatan preparat histopatologi untuk pembacaan histopatologi. Sediaan histopatologi diamati menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 400x dengan 5 lapang pandang. Sel fibroblas dijumlahkan dan diambil rata-rata jumlah sel pada setiap kelompok oleh empat orang pengamat. Hasil penelitian kemudian dilakukan uji normalitas berdasarkan nilai residual Shapiro-wilk dan dilanjutkan uji homogenitas Levene’s test. Hasil menunjukkan p>0,05 yang berarti data terdistribusi normal dan sebarandatanya homogen. Data kemudian dilakukan uji Two way ANOVA danmenunjukkan terdapat pengaruh signifikan berdasarkan perlakuan danberdasarkan hari (p<0,05) dan (p<0,05). Untuk menguji nilai kemaknaan,yang dilanjutkan menggunakan uji Post hoc Bonferroni yang menunjukkan terdapatperbedaan signifikan antara kelompok perlakuan 5%, 12,5%, 20% dan kelompok kontrol (basis gel) (p<0,05).

Hasil penelitian pada hari ke-3 menunjukkan mulai munculnya sel fibroblas pada semua kelompok perlakuan dan kontrol, dengan kelompok gel kulit batang ulin (Eusideroxylon zwageri). Pada konsentrasi 20% menujukkan jumlah rata-rata sel fibroblas tertinggi pada hari ke-3. Hal tersebut disebabkan sel makrofag mulai berdiferensiasi dari makrofag tipe 1 (pro-inflamasi) yang menjadi makrofag tipe 2 (anti-inflamasi) yang mensekresikan grow factor yang akan memberikan sinyal kepada sel fibroblas untuk bermigrasi ke daerah luka. Senyawa proantosianidin berperan sebagai antioksidan kuat yang dapat menekan tingkat ROS agar tidak meningkat terlalu tinggi yang dapat menggangu peran dari sel fibroblas.

      Hasil penelitian pada hari ke-5 menunjukkan rata-rata jumlah fibroblas lebih tinggi dibandingkan hari ke-3. Jumlah sel fibroblas tertinggi pada kelompok perlakuan konsentrasi 20%. Hal ini dikarenakan makrofag telah menurun dan mengalami apoptosis yang menandakan berakhirnya fase inflamasi dan sel fibroblas mulai mensitesis kolagen untuk penutupan luka. Metabolit sekunder yang ada di kulit batang ulin salah satunya fenolik yang memiliki sifat antioksidan yang berperan untuk membatasi dari jalur NF-κb (Nuclear Factor-kappaB) yang merupakan mediator utama dari makrofag tipe 1 (pro-inflamasi) dan pelepasan agen pro-inflamasi dan dapat meningkatkan proliferasi dari sel fibroblas.

      Hasil penelitian hari ke-7 memiliki jumlah rata-rata sel fibroblas paling tinggi daripada hari perlakuan lainnya yaitu hari ke-3 dan ke-5. Peningkatan paling tinggi jumlah sel fibroblas terdapat pada kelompok 20%. Hal ini dikarenakan sel fibroblas telah menjadi sel dominan daripada sel inflamasi dan mensekresikan kolagen tipe III. Fibroblas mencapai puncaknya pada hari ke-7 dan aktif berproliferasi yang mengeluarkan serat kolagen. Selain proantosianidin dan fenolik terdapat juga flavonoid yang juga bersifat antioksidan. Flavonoid berperan menghambat aksi enzim lipoksigenase dan COX dan membuat fibroblas mensitesi serat kolagen yang menutupi daerah luka. Semakin tinggi konsentrasi semakin cepat juga penyembuhan luka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gel ekstrak kulit batang ulin (Eusideroxylon zwageri) konsentrasi 5%, 12,5%, dan 20% memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol (basis gel) terhadap jumlah sel fibroblas pada hari ke-3, 5, dan 7 pada proses penyembuhan luka mukosa bukal tikus wistar.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI