DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Biomonitoring Pencemaran Udara di Area Meliponikultur Heterotrigona itama Melalui Analisis Sarang, Fungsi Polen, Kualitas Madu, dan Deteksi Mikroplastik
PENGARANG:ANANG KADARSAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-06-03


Perubahan lingkungan global, termasuk pencemaran udara dan mikroplastik, telah mengancam keberlanjutan ekosistem, keamanan pangan, dan kesehatan manusia. Sebagai penyerbuk utama dan penghasil madu berkualitas tinggi, lebah kelulut (Heterotrigona itama) tidak hanya berperan penting dalam meliponikultur tetapi juga berpotensi sebagai bioindikator sensitif untuk memantau dampak pencemaran udara. Penelitian ini mendesak dilakukan karena minimnya studi tentang respons biologis lebah kelulut terhadap polusi, padahal praktik meliponikultur semakin meluas di Indonesia. Manfaat penelitian mencakup pengembangan metode biomonitoring berbasis lebah, penyediaan data ilmiah untuk kebijakan lingkungan, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang hubungan antara kualitas udara, kesehatan lebah, dan keamanan produk madu.

 

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis struktur sarang dan morfologi Heterotrigona itama sebagai indikator dampak pencemaran udara di area meliponikultur; (2) mengidentifikasi keragaman polen sebagai penanda ketersediaan pakan dan tekanan lingkungan; (3) menilai pengaruh polusi terhadap kualitas madu melalui parameter fisikokimia dan nutrisi; serta (4) mendeteksi mikroplastik dalam produk lebah untuk mengevaluasi risiko pencemaran plastik. Dengan pendekatan multidisiplin, penelitian ini diharapkan dapat menyediakan rekomendasi strategis bagi pelestarian lebah kelulut, praktik meliponikultur berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan.

 

Hasil penelitian dampak pencemaran udara pada lebah kelulutterkait Struktur Sarang dan adaptasi morfologi mengungkapkan perbedaan signifikan struktur sarang Heterotrigona itama berdasarkan tingkat pencemaran. Di daerah urban, sarang menunjukkan adaptasi stres dengan volume lebih kecil (<2000 cm³), pintu masuk sempit berbentuk corong (1.38±0.20 cm), dan ketebalan involukrum menipis (2.3-3.0 mm). Sebaliknya, sarang di daerah rural memiliki ukuran optimal (>6000 cm³) dengan pintu masuk tabung lebar (1.99±0.35 cm) dan ketebalan involukrum bervariasi (1.0-3.7 mm). Perbedaan ini juga terlihat pada morfologi lebah pekerja, dimana spesimen urban berukuran lebih kecil (6.50 mm) dengan sayap menyempit dibanding rural (7.11 mm).Perubahan Komposisi Polen. Analisis polen menunjukkan gradasi kualitas habitat yang jelas. Daerah urban didominasi Asteraceae (42.9%) terutama Ageratum conyzoides dengan indeks keanekaragaman rendah (Shannon 1.2), sementara rural menunjukkan keragaman tinggi (indeks 2.8) dengan dominasi Araceae (51.6%) dan Fabaceae (28.8%). Pola transisi terlihat di semi-urban dengan dominasi Araceae (57.6%). Temuan ini mengindikasikan bahwa polusi udara mengurangi diversitas sumber pakan dan mengubah preferensi lebah terhadap spesies tumbuhan toleran polusi. Dampak pada Kualitas Madu. Parameter kualitas madu menunjukkan beberapa penyimpangan dari standar SNI. Kadar air melebihi batas (26.5-32% vs 22%) dengan fluktuasi gula pereduksi yang ekstrim (16.04-54.01%). Analisis statistik menunjukkan korelasi negatif signifikan antara TVOC dengan kadar air (r=-0.632, p=0.005). Namun, hasil positif terlihat pada tidak terdeteksinya logam berat (Pb, Cd <0.001 mg/kg) dan potensi antioksidan yang tetap tinggi di semua lokasi penelitian. Kontaminasi Mikroplastik. Terungkap ada kontaminasi mikroplastik yang meluas pada produk lebah. Konsentrasi tertinggi ditemukan di urban (118 partikel/100 ml polen) dengan dominasi fiber (80.4%). Yang mengkhawatirkan, kontaminasi juga terdeteksi di daerah rural (47-55 partikel/100 ml madu) dengan ukuran partikel mencapai 154.1 µm. Pola distribusi ini menunjukkan bahwa polusi mikroplastik telah menyebar melalui berbagai mekanisme termasuk deposisi atmosferik dan aktivitas pertanian.

Temuan penelitian ini mengungkapkan dampak signifikan pencemaran udara terhadap ekosistem meliponikultur Heterotrigona itama melalui empat temuan kunci. Pertama, adaptasi morfologi sarang menunjukkan respons stres yang jelas di daerah urban, berupa penyusutan volume sarang (<2000 cm³), perubahan struktur pintu masuk (corong sempit 1.38±0.20 cm), dan penurunan kapasitas reproduksi (1-2 sel anakan). Kedua, analisis polen mengungkap reduksi keanekaragaman sumber pakan di daerah tercemar (Indeks Shannon Wiener di area urban (1,2) vs area rural (2,8)) dengan pergeseran dominansi ke spesies toleran polusi seperti Ageratum conyzoides. Ketiga, kualitas madu menunjukkan penyimpangan parameter fisikokimia, terutama kadar air yang melebihi SNI (26.5-32%) dengan korelasi negatif terhadap TVOC (r=-0.632). Keempat, deteksi mikroplastik pada produk lebah (hingga 118 partikel/100 ml) membuktikan kontaminasi telah menyebar hingga daerah rural. Temuan ini memiliki implikasi luas bagi praktik meliponikultur berkelanjutan, menegaskan perlunya pemantauan lingkungan berbasis indikator biologis dan penguatan regulasi keamanan pangan produk lebah tanpa sengat di era antropogenik

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI