DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Budaya Patriarki Terhadap Fenomena Fatherless Studi Fenomenologi Ayah Milenial di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Banjarmasin
PENGARANG:KLARA SEPTARI PANJAITAN
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-06-25


Klara Septari Panjaitan, 2025. Fenomena fatherless dalam konteks budaya patriarki masih menjadi isu yang signifikan, khususnya di kalangan keluarga Batak Simalungun di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Banjarmasin. Budaya patriarki yang mengakar kuat menempatkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sementara tanggung jawab pengasuhan anak lebih banyak dibebankan kepada ibu. Akibatnya, banyak anak mengalami fatherless, bukan karena ketiadaan fisik ayah, tetapi karena minimnya keterlibatan emosional dan pengasuhan yang dilakukan oleh ayah.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya patriarki memengaruhi persepsi dan peran ayah milenial dalam pengasuhan anak serta bagaimana mereka menghadapi hambatan sosial dan budaya dalam meningkatkan keterlibatan sebagai orang tua. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap enam ayah milenial dan dua ibu sebagai informan pendukung dari jemaat GKPS Banjarmasin.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ayah milenial masih memegang konsep patriarki dalam keluarga, di mana peran utama mereka lebih difokuskan pada aspek ekonomi dibandingkan keterlibatan dalam pengasuhan anak. Faktor utama yang mempengaruhi minimnya keterlibatan ayah meliputi tuntutan pekerjaan, warisan pola asuh dari generasi sebelumnya, serta ekspektasi sosial yang menganggap pengasuhan sebagai tugas ibu. Namun, terdapat pergeseran pola pikir pada beberapa ayah milenial yang mulai menyadari pentingnya keterlibatan emosional dalam pengasuhan anak. Mereka berusaha menyeimbangkan peran sebagai pencari nafkah dan pengasuh dengan cara membangun komunikasi lebih intens dengan anak, berbagi tugas rumah tangga, serta menanamkan nilai-nilai keluarga melalui interaksi langsung.

Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika peran ayah dalam keluarga Batak Simalungun dan bagaimana perubahan sosial mendorong pergeseran pola pengasuhan yang lebih inklusif. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, diharapkan dapat terjadi pergeseran dari pola asuh patriarki menuju pola asuh yang lebih setara dan berorientasi pada kesejahteraan anak.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI