DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Strategi Pengembangan Perkebunan Sawit Swadaya Berkelanjutan di Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah
PENGARANG:AFIRUS FEBIAN
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-06-29


Perkebunan sawit swadaya memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan, sektor ini turut berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan domestik bruto (PDB), mengurangi tingkat kemiskinan, serta membantu petani sawit swadaya beralih ke kelas ekonomi menengah. Selain itu, perkebunan kelapa sawit swadaya turut berperan dalam meningkatkan aksesibilitas ke daerah-daerah terpencil serta memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak terkelola secara optimal.

Lebih dari itu, keberadaan perkebunan sawit rakyat juga menciptakan peluang kerja yang luas, baik secara langsung di sektor perkebunan maupun secara tidak langsung seperti pemupuk, perawatan, pemanen dan transportasi. Dengan sistem tata kelola yang lebih baik dan penerapan praktik berkelanjutan, perkebunan sawit swadaya dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Kelapa sawit telah menjelma menjadi komoditas penting penggerak ekonomi dari daerah sampai nasional, serta mampu menjadi penyedia lapangan pekerjaan terutama di daerah pedesaan.

Strategi pengembangan perkebunan sawit swadaya yang berkelanjutan perlu dilakukan melalui kelayakan finansial, kelayakan lingkungan dan status keberlanjutan dari perkebunan sawit swadaya. Keberlanjutan perkebunan sawit swadaya, tidak hanya ditentukan oleh aspek produktivitas dan ekonomi semata, melainkan juga oleh kemampuannya menjaga kualitas lingkungan. Keberadaan lahan sawit di dalam kawasan hutan telah memicu banyak kontroversi. Perkembangannya yang pesat namun belum dikelola dengan baik telah menyebabkan berbagai permasalahan, termasuk dampak lingkungan. Sehingga, tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan seperti pengatur tata air. pengendali erosi, pembentuk siklus hara dan penyerap karbon, analisis keberlanjutan menjadi kurang utuh.

Analisis kelayakan finansial dan kelayakan lingkungan merupakan pendekatan yang komprehensif dalam menilai keberlanjutan usaha perkebunan sawit swadaya. Kelayakan finansial mencerminkan kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan dan mempertahankan keberlangsungan ekonomi, sedangkan kelayakan lingkungan menilai sejauh mana praktik perkebunan sawit swadaya mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan hidup. Hal ini diperlukan untuk mendukung kebijakan pembangunan sawit berkelanjutan, terutama dalam konteks sawit swadaya yang berperan signifikan dalam penggerak ekonomi daerah pedesaan. Sehingga pendekatan multidimensi diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai keberlanjutan perkebunan sawit swadaya, yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga ramah lingkungan dalam menilai pencapaian keberlanjutan perkebunan sawit swadaya di kabupaten Seruyan.

Penentuan status keberlanjutan dilakukan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat keberlanjutan perkebunan sawit swadaya berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, penilaian keberlanjutan dilakukan menggunakan metode RapSPO, yaitu modifikasi dari pendekatan Rapfish yang dikembangkan secara khusus untuk menilai keberlanjutan perkebunan sawit swadaya. RapSPO mengintegrasikan pilar, tujuan, dan indikator yang bersumber dari tiga kerangka utama, yaitu Sustainable Development Goals (SDGs), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Integrasi ini memungkinkan penilaian dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan dimensi pembangunan lingkungan, pembangunan social ekonomi dan pembangunan hukum dan tata kelola. Dengan demikian, status keberlanjutan berfungsi sebagai alat ukur yang esensial dalam mendukung pencapaian pembangunan perkebunan sawit swadaya yang inklusif dan berkelanjutan.

Penyusunan strategi pengembangan perkebunan sawit swadaya membutuhkan pendekatan yang komprehensif, sistematis, dan berbasis data agar mampu merespons tantangan internal maupun eksternal secara tepat. Dalam konteks ini, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) digunakan sebagai alat diagnostik strategis untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberlanjutan dan daya saing perkebunan sawit swadaya. Namun, untuk memperoleh strategi yang benar-benar prioritatif dan aplikatif, hasil analisis SWOT perlu ditindaklanjuti dengan metode kuantitatif yang mampu memfasilitasi proses pengambilan keputusan strategis secara objektif. Dalam hal ini, metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) digunakan untuk mengukur daya tarik relatif (relative attractiveness) dari setiap alternatif strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT. Dengan mengombinasikan SWOT dan QSPM, strategi pengembangan yang dihasilkan tidak hanya bersifat konseptual tetapi juga terukur dan berbasis prioritas. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks pengembangan perkebunan sawit swadaya yang umumnya menghadapi keterbatasan sumber daya, keragaman kondisi sosial-ekonomi petani, serta kompleksitas tantangan keberlanjutan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis total nilai kelayakan finansial dan kelayakan lingkungan perkebunan sawit swadaya menurut analisis manfaat-biaya; menganalisis status keberlanjutan perkebunan sawit swadaya saat ini; merumuskan strategi pengembangan usaha perkebunan sawit swadaya berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei eksploratif (exploratory research). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah, yang terpusat pada kawasan hutan yang sudah dikonversikan menjadi perkebunan sawit swadaya. Dengan purposive sampling lokasi penelitian dilakukan kecamatan Danau Sembuluh, Kecamatan Hanau dan Kecamatan Seruyan Hilir Timur.  Analisis kelayakan finansial dan lingkungan menggunakan metode Net Present Value (NPV), analisis Benefit Cost Rasio (B/C Ratio), dan Internal Rate of Return (IRR). Analisis status keberlanjutan perkebunan sawit swadaya saat ini dengan RapSPO yang merupakan modifikasi dari Rapfish. Analisis strategi pengembangan perkebunan sawit swadaya dengan menggunakan metode SWOT dan QSPM.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perkebunan sawit swadaya layak secara finansial dan lingkungan, ditunjukkan oleh: nilai NPV yang positif (NPV > 0, Rp 9,48 triliun), B C Ratio > 1 (2,15) dan nilai IRR lebih besar dari discount factor yang ditentukan (IRR > 10%, 22%).  Analisis total manfaat finansial dan lingkungan sekarang perkebunan sawit swadaya sebesar Rp 16,09 triliun, total biaya finansial dan lingkungan sekarang perkebunan sawit swadaya senilai Rp 7,48 triliun, sehingga pendapatan bersih perkebunan sawit swadaya kabupaten Seruyan Rp 9,48 triliun untuk luasan lahan 27.298,50 ha atau Rp 13,89 juta/ha/tahun. Hal ini menunjukan bahwa perkebunan sawit swadaya memberikan kelayakan finansial dan lingkungan secara simultan, maka pekebun swadaya akan mengalami peningkatan kesejahteraan pribadi yang berkelanjutan, baik secara ekonomi maupun lingkungan, dan feasible untuk dilaksanakan. Namun demikian, rendahnya keunggulan kelayakan lingkungan dibanding aspek finansial menandakan pentingnya pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Integrasi praktik pertanian ramah lingkungan seperti GAP sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang, mencegah kerusakan ekosistem, dan memastikan keberlanjutan manfaat ekonomi.

Berdasarkan metode RapSPO, tiga dimensi keberlanjutan dinilai menggunakan 52 atribut menunjukan pembangunan lingkungan cukup berkelanjutan (indeks 65,86), pembangunan sosial ekonomi cukup hingga sangat berkelanjutan (indeks 69,51), pembangunan hukum dan tata kelola kurang berkelanjutan (indeks 34,36).  RapSPO menghasilkan status keberlanjutan perkebunan sawit swadaya menunjukan status cukup berkelanjutan pada dimensi pembangunan lingkungan dan pembangunan sosial-ekonomi, dan kurang berkelanjutan pada dimensi pembangunan hukum dan tata kelola. Validitas analisis dibuktikan dengan nilai Stress < 0,25 dan R² > 0,95. Hasil ini menjelaskan bahwa keberlanjutan usaha pekebun sawit swadaya ditentukan oleh kekuatan sinergis tiga dimensi utama: pembangunan lingkungan, pembangunan sosial ekonomi, dan pembangunan hukum tata Kelola yang saling mempengaruhi dan dapat ditingkatkan secara signifikan melalui intervensi pada atribut-atribut pengungkit yang paling sensitif. Teori ini dibangun berdasarkan integrasi prinsip dan indikator dari SDGs, ISPO, dan RSPO, serta didasarkan pada pendekatan multidimensi berbasis bukti melalui metode RapSPO.

Hasil analisis SWOT menempatkan posisi perkebunan sawit swadaya pada Kuadran I (kondisi kuat dan berpeluang), dengan strategi yang direkomendasikan adalah strategi SO (Strength–Opportunity), seperti sertifikasi sawit swadaya, kemitraan usaha dengan perusahaan besar, dan dukungan investasi. Strategi dilengkapi dengan analisis QSPM dengan 24 strategi untuk pemilihan prioritas program pengembangan yang mendukung keberlanjutan yang disusun dalam tiga tahap: tahap pondasi tahun 1-2, tahap penguatan tahun 2-3 dan tahap inovasi tahun 3-5. Pendekatan bertahap ini akan lebih operasional dan realistis jika dijadikan rujukan teknis dalam pelaksanaan Rencana Aksi Daerah (RAD) kelapa sawit kabupaten seruyan. Pada akhirnya “memusuhi” perkebunan sawit bukanlah menjadi solusi.

 

Kata kunci : berkelanjutan, kelayakan, RapSPO, sawit swadaya, strategi pengembangan.

 

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI