DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ADAPTASI SOSIAL ORANG JAWA DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT BANJAR DI KECAMATAN BANJARMASIN UTARA KOTA BANJARMASIN
PENGARANG:HESTI YUSTIKASARI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-07-02


ABSTRAK

 

Hesti Yustikasari. 2025. Adaptasi Sosial Orang Jawa dalam Lingkungan Masyarakat Banjar di Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin.Skripsi, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (Dibimbing oleh Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D.).

Individu yang merantau dituntut untuk mampu menyesuaikan diri agar dapat menjalin hubungan sosial yang harmonis di lingkungan baru. Adaptasi ini mencakup penyesuaian terhadap kondisi sosial, budaya, serta kebiasaan masyarakat setempat yang bisa sangat berbeda dari lingkungan asal mereka. Perbedaan tersebut menciptakan dinamika dan ketertarikan tersendiri dalam proses interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana komunitas Jawa melakukan proses adaptasi ketika hidup di tengah masyarakat Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan landasan teori adaptasi sosial dari John William Bennet dan teori multikulturalisme oleh Charles Taylor. Hasil studi menunjukkan bahwa proses adaptasi masyarakat Jawa di Kalimantan Selatan berlangsung dalam lima tahapan utama. Pertama, tahap perencanaan, di mana sebelum pindah, masyarakat Jawa telah mempersiapkan diri secara mental serta membawa barang-barang penting yang dibutuhkan dalam kehidupan barunya.

Kedua, tahap bulan madu (honeymoon), yaitu masa awal setelah kedatangan, ketika individu merasa antusias, penasaran, dan penuh semangat menjajaki suasana baru. Perasaan ini memberikan dorongan untuk mulai membangun kehidupan di tempat yang asing. Ketiga, tahap frustrasi, ketika para perantau mulai menghadapi tantangan nyata akibat perbedaan budaya dan kebiasaan sosial. Hambatan ini muncul dalam bentuk kesulitan bahasa, perbedaan pola makan, cara bergaul, serta perasaan rindu kampung halaman (homesick), yang memunculkan gejala culture shock. Keempat, tahap penyesuaian kembali (readjustment), di mana individu mulai mencari cara-cara untuk mengatasi hambatan yang mereka hadapi. Pada fase ini, mereka mulai mengembangkan strategi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan secara lebih efektif, termasuk menyelesaikan konflik batin yang muncul pada tahap sebelumnya. Kelima, tahap penerimaan atau resolusi, di mana para perantau mulai menerima kondisi dan budaya baru dengan lebih terbuka. Pada titik ini, kemampuan untuk berbaur dengan lingkungan masyarakat Banjar mulai terbentuk, dan mereka mulai menjalani hidup dengan lebih stabil dan seimbang. Kesimpulan bahwa adapatasi masyarakat Jawa di Kalimantan Selatan menunjukkan tahapan yang kompleks, namun menunjukkan keberhasilan dalam menciptakan harmoni dalam keberagaman budaya.

Kata Kunci: Orang Jawa, Adaptasi Sosial, Banjarmasin Utara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Hesti Yustikasari. 2024. Social Adaptation Of Javanese People In The Banjar Community Environment In North Banjarmasin District, Banjarmasin City. Thesis, Sociology Study Program, Faculty Of Social Sciences and Political Science. (Supervised by Drs. H. Setia Budhi, M.Si, Ph.D..).

Individuals who migrate are required to be able to adapt in order to establish harmonious social relationships in their new environment. This adaptation includes adjusting to the local social conditions, culture, and customs, which may be significantly different from those of their place of origin. These differences create unique dynamics and appeal in the interaction process. This study aims to examine how the Javanese community undergoes the adaptation process while living among the Banjar people.This research uses a descriptive qualitative approach, grounded in John William Bennett’s theory of social adaptation and Charles Taylor’s theory of multiculturalism. The findings of the study indicate that the adaptation process of the Javanese community in South Kalimantan occurs in five main stages.First, the planning stage, where before moving, Javanese individuals prepare themselves mentally and bring essential items needed for their new life.Second, the honeymoon stage, which is the initial period after arrival, during which individuals feel enthusiastic, curious, and excited to explore the new environment. This feeling encourages them to begin building their life in a foreign place.Third, the frustration stage, when the migrants begin to face real challenges due to cultural and social differences. These obstacles manifest in the form of language difficulties, different eating habits, social interaction styles, and feelings of homesickness, all of which can lead to culture shock.

Fourth, the readjustment stage, where individuals start finding ways to overcome the barriers they face. In this phase, they begin to develop strategies to adapt more effectively to their environment, including resolving internal conflicts that arose in the previous stage.Fifth, the acceptance or resolution stage, in which the migrants begin to accept the new conditions and culture more openly. At this point, their ability to blend into the Banjar community starts to take shape, and they begin to live their lives more stably and harmoniously.The conclusion is that the adaptation of Javanese society in South Kalimantan shows complex stages, but shows success in creating harmony in cultural diversity.

 

Keywords: Javanese People, Social Adaptation, North Banjarmasin

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI