DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | INTEGRASI PASAR SAPI POTONG ANTARA PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | MUHAMMAD YUSUF FAJAR | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-07-08 |
Penelitian ini menganalisis integrasi pasar sapi potong antara Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menggunakan DKI Jakarta sebagai pasar acuan. Jawa Timur dipilih karena statusnya sebagai penghasil sapi potong terbesar nasional (daerah surplus), sedangkan Kalimantan Selatan sebagai daerah defisit yang bergantung pada pasokan eksternal dari Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan Januari-Mei 2025, menggunakan data sekunder time series harga bulanan periode Januari 2018–Mei 2024 dari Sistem Informasi Pasar Online Nasional (SIMPONI) Ternak, Kementerian Pertanian. Variabel meliputi harga sapi potong di Jawa Timur serta harga daging sapi di Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta, dianalisis menggunakan Vector Error Correction Model (VECM).
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Mei 2022 mengubah dinamika hubungan kedua provinsi dengan dampak berbeda. Jawa Timur sebagai zona merah mengalami kenaikan harga 7,6% namun terkendali karena kapasitas produksi internal, sedangkan Kalimantan Selatan mengalami kenaikan harga hingga 25% akibat gangguan jalur pasokan, menunjukkan kerentanan sistem perdagangan antar pulau.
Transmisi harga terjadi dalam lag 1 bulan melalui Jakarta sebagai pasar acuan, menunjukkan efisiensi informasi sistem perdagangan antar pulau. Karakteristik respons berbeda: Jawa Timur memiliki elastisitas 0,56 terhadap perubahan harga Jakarta, mencerminkan kemampuan mengendalikan harga berdasarkan kondisi produksi internal. Kalimantan Selatan menunjukkan elastisitas 2,76, mencerminkan ketergantungan pada sinyal harga eksternal karena keterbatasan produksi lokal.
Mekanisme penyesuaian harga menunjukkan perbedaan karakter provinsi. Kalimantan Selatan menerima harga tanpa kemampuan koreksi, sementara Jawa Timur merespons dengan penyesuaian berlebihan yang menciptakan volatilitas. Momentum harga berbeda: Kalimantan Selatan dengan intensitas 47% bulan berikutnya, Jawa Timur lebih terkendali dengan momentum 33%.
Temuan menunjukkan perlunya strategi kebijakan sesuai karakteristik masing-masing provinsi. Kalimantan Selatan perlu diversifikasi sumber pasokan melalui program SISKA KUINTIP dan buffer stock memadai. Jawa Timur memerlukan stabilisasi mekanisme penyesuaian harga untuk mengurangi volatilitas berlebihan. Perbaikan infrastruktur transportasi antar pulau, sistem peringatan dini, dan program asuransi ternak menjadi elemen kunci memperkuat hubungan perdagangan sapi potong antara kedua provinsi.
Kata Kunci: integrasi pasar, penyakit mulut dan kuku, transmisi harga, kointegrasi, fluktuasi harga, vector error correction model
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI