DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Sistem Pelengelolaan dan Struktur Vegetasi Kebun Hutan (Forest Garden) pada Masyarakat Dayak Meratus di Desa Juhu Kabupaten Hulu Sungai Tengah
PENGARANG:MUHAMMAD BAWAIDI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-07-09


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan dan pemanfaatan kebun hutan oleh masyarakat Dayak Meratus di Desa Juhu serta menganalisis struktur dan komposisi jenis vegetasi yang ada di kebun hutan mereka. Desa Juhu yang terletak di Pegunungan Meratus merupakan wilayah terpencil yang masih memegang teguh tradisi dan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya hutan secara keberlanjutan.

Sistem kebun hutan yang dikembangkan masyarakat setempat dikenal sebagai forest garden, yaitu bentuk agroforestri tradisional yang menyatukan berbagai jenis tanaman tahunan dan semusim. Masyarakat menanam padi, kayu manis, kemiri, kopi, buah-buahan, serta berbagai tanaman obat dan tanaman keras dalam satu hamparan lahan secara tidak teratur namun produktif. Lahan ini dimanfaatkan tidak hanya sebagai sumber pangan dan penghasilan, namun juga untuk mempertahankan keberlanjutan lingkungan.

Pengelolaan dilakukan dengan prinsip kearifan lokal melalui sistem ladang berpindah, penggunaan pupuk alami dari pembakaran terbatas (dengan sekat api sesuai ketentuan adat), dan ritual-ritual adat yang mengiringi setiap tahapan bertani. Tahapan pengelolaan meliputi: persiapan lahan, pengadaan bibit (umumnya dari cabutan alam), penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan. Masyarakat melakukan kegiatan ini secara gotong royong, menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi.

Penelitian ini juga menganalisis vegetasi kebun hutan pada tiga zona ketinggian (458–558 mdpl, 558–617 mdpl, dan 617–678 mdpl) menggunakan metode analisis vegetasi kuantitatif. Parameter yang digunakan meliputi kerapatan, frekuensi, dominansi, dan perhitungan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman Jenis (H'), Indeks Kemerataan (E), serta Indeks Kesamaan (IS).

Hasil analisis menunjukkan bahwa vegetasi kebun hutan masyarakat cukup beragam dan mendukung keberlanjutan ekosistem setempat. Jenis-jenis dominan berbeda pada setiap tingkat pertumbuhan (semai, pancang, tiang, pohon) dan ketinggian, menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis lokal mampu mempertahankan keanekaragaman hayati secara alami. Nilai H’ berada pada kategori sedang hingga tinggi, yang mencerminkan bahwa sistem kebun hutan ini memiliki stabilitas ekologi yang baik. Nilai E yang cukup merata juga menunjukkan tidak ada dominasi berlebih dari satu jenis tanaman, sehingga komunitas tumbuhan relatif seimbang. Sementara itu, indeks kesamaan antara zona ketinggian menunjukkan variasi komposisi vegetasi yang khas pada tiap lokasi.

Penelitian ini membuktikan bahwa masyarakat Desa Juhu memiliki sistem yang adaptif dan efektif dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Sistem pengelolaan tradisional mereka mampu menjadi model konservasi yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan. Lebih dari itu, kearifan lokal dalam bentuk ritual adat, pembagian kerja, serta nilai-nilai spiritual yang menyertai praktik pertanian, berperan besar dalam melindungi keberadaan kebun hutan dari kerusakan. Oleh karena itu, penting bagi berbagai pihak termasuk pemerintah dan akademisi untuk mendorong dokumentasi, pelestarian, dan pengembangan sistem kebun hutan berbasis masyarakat seperti yang ada di Desa Juhu.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI