DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Pertambahan Nilai dan Analisis Preferensi Konsumen pada Produk Sasirangan Pewarna Alami Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) | |
| PENGARANG | : | DEWI PUJI ASTUTI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-07-10 |
Kain sasirangan merupakan warisan budaya khas Kalimantan Selatan yang memiliki nilai historis dan estetis tinggi. Namun, proses pewarnaan yang umumnya menggunakan zat sintetis menimbulkan pencemaran lingkungan akibat limbah cair yang berwarna pekat tidak diolah dengan benar. Sementara limbah serbuk gergajian kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) dari industri kayu dapat dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya mengurangi dampak pencemaran, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya saing industri kreatif berbasis lokal. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pertambahan nilai dan preferensi konsumen terhadap produk sasirangan berbahan pewarna alami kayu ulin.
Penelitian diawali dengan membuat pewarna alami menggunakan limbah serbuk gergajian kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) dan air 1:10 metode ekstraksi perebusan selama 90 menit pada suhu 100? C. Pembuatan desain produk menggunakan software procreate dengan ukuran 50 cm x 35 cm dan tali pengikat disamping 35 cm, produk dibuat untuk perempuan dengan segmen usia 17-25 tahun. proses pewarnaan produk dikombinasikan dengan tiga jenis fiksator: tawas (KAl2(SO4)2), kapur (Ca(OH)2), dan tunjung (FeSO4) dengan perbandingan masing-masing bahan dan air 1:20 . Produk akhir berupa vest sasirangan kemudian dianalisis secara ekonomis menggunakan metode variable costing dan penentuan harga jual per unit menggunakan metode cost-plus pricing. Kemudian dianalisis preferensi konsumen perempuan pada segmen usia 17-25 tahun terhadap produk menggunakan metode skala Likert melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan uji reliabilitas.
Karakteristik produk yang dihasilkan dari penggunaan pewarna alami yang berasal dari limbah serbuk gergajian kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) dan dikombinasikan dengan fiksator tawas, kapur, dan tunjung menghasilkan warna coklat muda dan coklat tua. Warna coklat muda berasal dari reaksi ionik antara tanin dan Ca2+ pada kapur. Warna coklat tua berasal dari reaksi tanin dan logam Fe2+ dari fiksator tunjung yang menghasilkan garam kompleks. Penggunaan limbah serbuk gergajian kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) sebagai pewarna alami dapat mereduksi dampak buruk penggunaan pewarna sintetis terhadap lingkungan. Hasil analisis ekonomi dari produk sasirangan pewarna alami diperoleh harga iii pokok produksi sebesar Rp42.861 per unit, dengan harga jual sebesar Rp60.000 per unit. Sebelum dilakukan inovasi pewarna alami, produk serupa yang menggunakan pewarna sintetis dijual dengan harga rata-rata Rp50.000 per unit, terdapat pertambahan nilai sebesar Rp10.000 per unit setelah pewarna alami diterapkan. Analisis preferensi konsumen dilakukan terhadap 30 responden perempuan usia 17–25 tahun. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan seluruh item kuesioner layak digunakan. Skor total responden mengenai preferensi konsumen sebesar 2.378 menunjukkan bahwa responden setuju terhadap penggunaan pewarna alami pada produk sasirangan pewarna alami kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) dengan aspek-aspek meliputi desain, warna, bahan, harga dan minat beli. Kata kunci: Kayu ulin, nilai tambah, pewarna alami, preferensi konsumen, sasirangan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI