DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS KELIMPAHAN MIKROPLASTIK PADA PERIARAN DAN DAGING BIOTA AIR DI MUARA SUNGAI BARITO KALIMANTAN SELATAN
PENGARANG:NORLAILA HAYATI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-07-16


Sungai Barito telah menjadi urat nadi masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya bagi penduduk yang bermukim di sepanjang aliran sungai. Namun, tingginya aktivitas manusia di sekitar sungai, seperti perikanan, pelayaran, dan pemukiman, turut memberikan tekanan terhadap kualitas lingkungan perairan, terutama dalam bentuk pencemaran plastik. Plastik, sebagai polimer sintetis yang tahan lama dan tidak mudah terurai, berkontribusi signifikan terhadap akumulasi limbah di lingkungan perairan. Sampah plastik yang terakumulasi di perairan mengalami degradasi menjadi partikel berukuran kecil (<5 mm) yang dikenal sebagai mikroplastik. Berdasarkan asal-usulnya, mikroplastik diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer yang berasal dari bahan industri seperti pelet dan produk kosmetik, serta mikroplastik sekunder yang terbentuk akibat fragmentasi limbah plastik makro. Mikroplastik memiliki potensi untuk memasuki rantai makanan perairan dan berdampak negatif terhadap organisme perairan, baik melalui gangguan fisiologis maupun bioakumulasi senyawa toksik, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, penting dilakukan kajian ilmiah mengenai kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada permukaan perairan dan daging biota air di wilayah Muara Sungai Barito guna memperoleh pemahaman ilmiah yang komprehensif sebagai dasar pengelolaan lingkungan perairan yang berkelanjutan.

 

Mikroplastik yang ditemukan di perairan dan biota air didominasi oleh bentuk fiber (serat) sebesar 68,03%, sedangkan fragmen tercatat sebesar 31,97%. Fiber memiliki bentuk menyerupai helai rambut dan berasal dari bahan sintetik seperti benang pancing, jaring ikan, dan limbah tekstil. Dari segi warna, hitammerupakan warna yang paling dominan baik pada perairan (50,75%) maupun dalam jaringan biota (46,72%), diikuti oleh warna transparandan coklat. Warna mikroplastik juga menjadi indikator tingkat degradasi dan potensi tertelannya oleh biota, karena menyerupai makanan alami seperti plankton atau detritus. Kelimpahan mikroplastik di perairan Muara Sungai Barito berkisar antara 3,6–6,2 partikel/L, dengan konsentrasi tertinggi di Stasiun 8 yang berlokasi di muara. Sementara itu, kelimpahan dalam daging biota air berkisar antara 0,8–1,35 partikel/gram, dengan nilai tertinggi juga di wilayah muara. Distribusi spasial menunjukkan bahwa daerah muara berfungsi sebagai zona akumulasi mikroplastik. Faktor-faktor yang mempengaruhi termasuk arus permukaan, pasang surut, dan aktivitas antropogenik seperti pelabuhan, pemukiman, serta industri. Hasil analisis regresi linier menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kelimpahan mikroplastik di perairan dengan jumlah mikroplastik yang terdeteksi dalam daging biota air. Persamaan regresi yang diperoleh adalah y = 0,1445x + 0,3787, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,660 dan tingkat signifikansi p = 0,014.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI