DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | INTERAKSI SOSIAL PEDAGANG THRIFTING DI PASAR LIMA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | HELMITIO RAIHANNOR KHALISH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-09-18 |
ABSTRAK
Helmitio Raihannor Khalish, 2024, Interaksi Sosial Pedagang Thrifting di Pasar Lima Banjarmasin Kalimantan Selatan. Skripsi Program Studi Pendidikan Sosiologi. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Pembimbing Prof. Dr. H. Budi Suryadi, S. Sos., M.Si Kata Kunci: Interaksi Sosial, Thrifting, Pasar Lima Banjarmasin
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih yang berperan saling memengaruhi antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses setiap orang menjalin kontak dan berkomunikasi dan saling memengaruhi dalam pikiran maupun dengan tindakan.
Salah satu interaksi sosial dapat terjalin dengan baik jika dalam suatu hubungan terdapat dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya sehingga dapat terjalin kerjasama yang baik di antara para pelaku interaksi sosial.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan melibatkan 5 orang informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk memastikan keabsahan data, digunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, triangulasi waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial pedagang thrifting di Pasar Lima Banjarmasin terbentuk melalui dua bentuk utama, yaitu interaksi sosial asosiatif dan disosiatif. Interaksi asosiatif terlihat dalam bentuk kerja sama pengembangan pasar, akomodasi melalui kesepakatan formal dan informal, serta asimilasi budaya yang menciptakan pola hubungan sosial yang harmonis. Sementara itu, interaksi disosiatif muncul dalam bentuk persaingan antar pedagang, kontravensi saat proses tawar-menawar, dan konflik antara pedagang dengan petugas pasar. Adapun faktor-faktor yang mendorong terjadinya kerja sama meliputi kesamaan tujuan berdagang, kedekatan fisik antarlapak, simpati antarpedagang, dan kepentingan bersama di luar perdagangan. Sedangkan faktor yang memengaruhi terjadinya asimilasi adalah perbedaan latar budaya, pentingnya komunikasi dalam berdagang, dan sikap saling menghormati antar pedagang dari berbagai daerah.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI