DIGITAL LIBRARY



JUDUL:KULTIVASI SPODOSOLS GUNA PERBAIKAN FAKTOR PENENTU HASIL KELAPA SAWIT MELALUI AMELIORASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN DOLOMIT
PENGARANG:IDA BAGUS MADE ARIMBAWA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-09-22


Perkebunan kelapa sawit Indonesia adalah yang terbesar di dunia (16,83 juta Ha), yang mana tanaman ini lebih efisien dalam penggunaan air, lahan, dan pupuk dibandingkan komoditas minyak nabati lain, namun produktivitas CPO saat ini (2,80 ton/ha) masih jauh di bawah potensi maksimal (7-9 ton/ha) akibat faktor seperti kesesuaian lahan dan kesuburan tanah. Pemanfaatan tanah marginal, seperti Spodosols, menjadi tantangan utama dalam budidaya kelapa sawit karena faktor pembatas seperti kesuburan tanah yang rendah, meskipun luasannya mencapai 2,16 juta Ha dengan sebaran terbesar di Kalimantan Tengah, Barat, dan Timur. Meningkatkan produktivitas kelapa sawit di lahan marginal memerlukan penanganan khusus terhadap kendala kesuburan tanah untuk mengoptimalkan potensi hasil tanaman. Spodosols memiliki permasalahan utama berupa tekstur berpasir dan lapisan hardpan yang menghambat pertumbuhan akar serta mengurangi kesuburan tanah, sehingga penelitian ini bertujuan untuk: (1) memvalidasi sumber dan besarnya kesenjangan hasil kelapa sawit pada Spodosols, (2) menganalisis pengaruh dolomit terhadap dekomposisi TKKS, (3) mengkaji interaksi dolomit dan TKKS dalam memperbaiki sifat kimia tanah untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Manfaat penelitian meliputi: (1) informasi kesenjangan produktivitas Spodosols dibanding tanah lain (Ultisols, Inceptisols) sebagai dasar pertimbangan budidaya, (2) temuan baru peningkatan kualitas dekomposisi TKKS dengan dolomit, serta (3) rekomendasi manajemen perkebunan kelapa sawit di lahan Spodosols untuk optimalisasi kesuburan tanah dan hasil tanaman.

Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit di Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah dengan umur tanaman 15-18 tahun. Penelitian terbagi menjadi 2 bagian yang mana penelitian tahap pertama berupa validasi faktor pembatas  dimulai pada Bulan Juni 2023. Penelitian tahap ke-2 di bulan Juli setelah tahap ke-1 selesai. Penelitian tahap-2  berupa kultivasi Spodosols dengan kombinasi perlakuan 3 dosis TKKS (0, 30 dan 60 ton ha-1) dan 3 dosis dolomit ( 0, 2,5 dan 5 ton ha-1) menggunakan rancangan acak lengkap yang diamati secara berkala selama 12 bulan penelitian. 

Pada lokasi penelitian ditemukan 3 jenis tanah dominan yaitu Ultisols, Inceptisols dan Spodosols. Penelitian kali ini membuktikan bahwa terjadi korelasi negatif peubah pasir terhadap seluruh unsur hara kecuali pH tanah. Pasir berkorelasi negatif kuat dengan beberapa peubah yaitu C-organik, KTK, Ca, Na tanah dan hasil.  Selisih hasil rerata selama 10 tahun produksi antara Spodosols dan Ultisols cukup besar yaitu 3,97 toh ha-1 TBS per tahun. Selisih hasil Spodosols dan Inceptisols sangat besar hingga 9,74 ton ha-1 TBS per tahun. Sedangkan selisih Ultisols dan Inceptisols sebesar 5,77 ton ha-1 TBS per tahun.

Pemberian dolomit tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas dekomposisi TKKS yang mana pada penelitian ini waktu inkubasi (bulan pengamatan) memberikan pengaruh signifikan terhadap peubah (pH, Berat kering, C-organik, N-total dan C/N rasio). Berdasarkan kriteria kualitas kompos dekomposisi TKKS pada penelitian ini masih tergolong buruk dengan C/N rasio > 20.

Pengaruh amelioran  TKKS dan dolomit hanya mempengaruhi peubah C-organik tanah yang mana pemberian dolomit 5 ton ha-1 pada TKKS 60 efektif meningkatkan C-organik tanah. Pengaruh interaksi TKKS dan bulan pengamatan tampak pada peubah vegetatif (massa akar dan pertambahan jumlah pelepah) yang mana dosis TKKS 60 ton ha-1 pada bulan pengamatan ke-6 meningkatkan massa akar dibanding tanpa aplikasi TKKS.  Aplikasi TKKS 60 ton ha-1 memberikan pertambahan jumlah pelepah tertinggi pada bulan ke-9 pengamatan dibanding pertambahan pelepah di bulan ke-3. Interaksi dolomit dan bulan pengamatan berpengaruh terhadap kandungan nitrat tanah, di mana kandungan nitrat tanah lebih tinggi pada dosis dolomit 2,5 ton ha-1 pada bulan  ke-6 dibanding pada bulan ke-3 dengan dosis dolomit yang sama. Pengaruh mandiri  TKKS terhadap kimia tanah hanya terlihat pada peubah C-organik, P-total, dan kejenuhan basa tanah. Kandungan C-organik pada perlakuan TKKS 60 lebih tinggi dibanding pada dosis TKKS lain. P-total tanah terendah pada perlakuan TKKS 30. Perlakuan TKKS 60 memiliki kejenuhan basa lebih rendah dibanding kontrol (TKKS 0). Pengamatan peubah hara daun memperlihatkan bahwa aplikasi TKKS mempengaruhi kandungan Ca pada daun kelapa sawit, di mana peningkatan dosis TKKS yang diaplikasikan menghasilkan kandungan Ca daun yang semakin rendah. Pengaruh mandiri dolomit hanya terlihat pada peubah P-tersedia dan Mg-tukar tanah. P-tersedia pada dosis dolomit 2,5 ton ha-1 lebih rendah dibanding kontrol dan dosis maksimal (5 ton ha-1). Dosis dolomit yang diaplikasikan akan diikuti dengan penurunan Mg-tukar, hal ini diduga karena konsentrasi dolomit hanya terletak pada lubang aplikasi. Aplikasi dolomit berdampak negatif terhadap kandungan kalium daun, di mana kalium daun pada dosis dolomit 5 ton ha-1 lebih rendah dibanding kontrol dan dosis 2,5 ton ha-1. Bulan pengamatan berpengaruh terhadap peubah kimia tanah (pH, C-Organik, P-total, P Bray-1, K-tukar, Mg-tukar dan kejenuhan basa), hara daun (N, P, K, Mg dan Ca) dan hasil (sex rasio). Hara N dan K daun meningkat bersamaan dengan waktu pengamatan, sementara hara Ca, dan Mg daun menurun selama masa penelitian. Hara P daun pada bulan ke-6 lebih rendah dibanding pada bulan ke-3 dan 12. Sex rasio dipengaruhi oleh waktu pengamatan yang mana pada triwulan ke-4 83% bunga yang muncul adalah bunga betina kemungkinan dipengaruhi oleh variasi temporal tanaman.

Respons hara daun yang meningkat (N dan K) menjadi alternatif utama dalam penyusunan rekomendasi pemupukan tahunan yang sebaiknya mengacu pada analisis daun (leaf analysis) sebagai indikator utama, sementara analisis tanah digunakan sebagai pelengkap untuk memantau perubahan jangka panjang. Standar kriteria optimal hara daun (seperti kadar N 2,5-2,8%; P 0,15-0,2%; K 1,2-1,5%) harus menjadi acuan utama dalam menyesuaikan dosis pupuk, bukan hanya berdasarkan rekomendasi umum berbasis tanah. Perbaikan fisik pada Spodosols merupakan solusi pertama untuk memperbaiki sifat fisik Spodosols yang merupakan faktor pembatas utama. 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI