DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | TRADISI BAHANDIPAN SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI BUDAYA KOLEKTIF PETANI SAWAH DI DESA GUDANG HIRANG | |
| PENGARANG | : | MUHAMMAD YAKUB AMIN | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-09-25 |
ABSTRAK
Muhammad Yakub Amin, 2110414310068, Tradisi Bahandipansebagai Bentuk Komunikasi Budaya Kolektif Petani Sawah di Desa Gudang Hirang. Di bimbing oleh Muhammad Alif.
Tradisi bahandipan merupakan bentuk gotong royong masyarakat Banjar yang sudah mulai tergerus oleh modernisasi. Tradisi ini tidak sekadar praktik pertanian, tetapi juga wadah komunikasi budaya kolektif yang memperkuat solidaritas antarpetani. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran tradisi bahandipan sebagai bentuk komunikasi budaya kolektif di kalangan petani sawah Desa Gudang Hirang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman langsung para pelaku tradisi.Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari ketua kelompok tani, sejarawan lokal dan petani desa Gudang Hirang. Analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori Interaksi Simbolik untuk memahami bagaimana makna sosial dibentuk melalui interaksi dalam tradisi bahandipan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahandipan menjadi sarana komunikasi lisan dan simbolik yang memperkuat jaringan sosial, nilai gotong royong, dan musyawarah tanpa struktur formal. Meskipun mulai bergeser karena modernisasi dan sistem kerja berbasis upah, tradisi ini masih dipandang penting sebagai warisan budaya bermakna yang layak dilestarikan dalam pembangunan berbasis kearifan lokal.
Kata Kunci: Bahandipan, komunikasi budaya kolektif, petani sawah, gotong royong, interaksi simbolik.
ABSTRACT
Muhammad Yakub Amin, 2110414310068 The Bahandipan Tradition as a Form of Collective Cultural Communication among Rice Farmers in Gudang Hirang Village. Supervised by: Muhammad Alif
The bahandipan tradition is a form of mutual cooperation among the Banjar people that has begun to fade due to modernization. More than just an agricultural practice, this tradition serves as a medium of collective cultural communication that strengthens solidarity among farmers. This study aims to explore the role of the bahandipan tradition as a form of collective cultural communication among rice farmers in Gudang Hirang Village.
This research employs a qualitative approach using a phenomenological method to explore the direct experiences of tradition practitioners. Data collection techniques include interviews, observation, and documentation. Informants consist of local farmers, heads of farmer groups, and a local historian. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The study applies the theory of Symbolic Interactionism to understand how social meanings are constructed through interaction within the bahandipan tradition.
The findings reveal that bahandipan functions as a form of oral and symbolic communication that reinforces social networks, values of mutual cooperation, and informal consensus-building. Although the tradition is shifting due to modernization and wage-based labor systems, it is still regarded as a meaningful cultural heritage that should be preserved in the context of development rooted in local wisdom.
Keywords: Bahandipan, collective cultural communication, rice farmers, mutual cooperation, symbolic interactionism.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI