DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Penyakit Bercak Daun Pada Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Kabupaten Tanah Laut
PENGARANG:ARETNO ADELINE NATAU
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-10-21


RINGKASAN

ARETNO ADELINE NATAU. Penyakit Bercak Daun Pada Pembibitan Tanaman Kelapa   Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Kabupaten Tanah Laut dibimbing oleh Mariana.

Pembibitan tanaman kelapa sawit merupakan titik awal yang menentukan pertumbuhan kelapa sawit di lapangan. Bibit yang pertumbuhannya baik di pembibitan akan memberikan tanaman dengan pertumbuhan baik juga di lapangan. Bibit kelapa sawit diketahui cukup rentan terhadap terserangnya penyakit bercak daun. Pada tanaman kelapa sawit, cendawan Curvularia ini merupakan penyebab penyakit utama yang menyerang pada fase pembibitan tanaman kelapa sawit yang sering disebut juga dengan penyakit bercak daun. Beberapa cendawan patogenik yang dilaporkan berkaitan dengan penyakit bercak daun antara lain Cercospora elaeidis, Cochliobolus carbonus, Curvularia eragostidis, Curvularia lunata, Drechslera halodes dan Pestalotiopsis theae. Dari keseluruhan cendawan patogenik tersebut, dua spesies yang paling sering ditemukan di pembibitan kelapa sawit di Indonesia adalah Curvularia sp. dan Botryodiploidia spp.

Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian dan keparahan serangan penyakit bercak daun pada pembibitan tanaman kelapa sawit di Kabupaten Tanah Laut. Penelitian ini menggunakan metode survei pengambilan sampel dengan stratified purposive sampling dan membuat kuesioner sebagai data pendukung. Penelitian ini diawali dengan survei areal dengan tujuan mendapatkan izin dan data dari Dinas Pertanian/Perkebunan Provinsi, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi, Dinas Perkebunan Kabupaten dan Balai Penyuluhan Pertanian. Penentuan daerah yang memiliki penanaman/perkebunan kelapa sawit, kemudian dipilih perkebunan yang memiliki pembibitan. Untuk menentukan titik sampel di pilih tiga desa pada masing-masing kecamatan. Menentukan kejadian penyakit dan keparahan penyakit yaitu dengan melakukan sampling dengan cara diagonal. Pada setiap titik diamati 25 tanaman sehingga dalam 1 lahan diambil sebanyak 125 tanaman sampel untuk menentukan kejadian penyakit. Sedangkan untuk menentukan keparahan penyakit hanya diamati satu titik sampel pada titik bagian tengah di setiap pembibitan. Parameter yang diamati adalah kejadian dan keparahan penyakit bercak daun dan untuk pengolahan data menggunakan tabulasi data.

Hasil penelitian ini rata-rata tingkat kejadian penyakit di Kecamatan Batu Ampar 23%, Kecamatan Panyipatan 30%, Kecamatan Bati-Bati 38% dan Kecamatan Pelaihari 70%. Rata-rata tingkat kejadian penyakit dari empat kecamatan sebesar 40%. Tingkat keparahan di setiap lokasi bervariasi, mulai dari 4% di Desa Gunung Mas hingga 43% di Kelurahan Karang Taruna. Rata-rata keparahan penyakit bercak daun pada tanaman kelapa sawit di Kabupaten Tanah Laut berkisar antara ringan sampai sedang. Kecamatan Batu Ampar 11%, Kecamatan Panyipatan 24%, Kecamatan Pelaihari 40% dan Kecamatan Bati-Bati 48%. Rata-rata tingkat keparahan penyakit dari empat kecamatan sebesar 31% yang di mana termasuk dalam kategori sedang.

pH tanah yang paling netral sebesar 6,5 hingga pH tanah yang terendah berada pada Kecamatan Bati-Bati di Desa Bentok Darat dengan pH sebesar 5. Selain itu kelembaban tanah yang paling optimum berada pada Kecamatan Bati-Bati di Desa Bentok Darat dengan tingkat kelembaban sebesar 90% hingga kelembaban tanah yang terendah pada Kecamatan Pelaihari di Desa Sungai Riam dengan tingkat kelembaban sebesar 30%.Fungsisida yang sering di pakai oleh para petani di Lapangan adalah Antracol yang memiliki bahan aktif Propinep 70% dan AmistarTop yang memiliki bahan aktif 200 g/l azoksistrobin dan 125 g/l difenokonazol.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI