DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | DOMINASI SHALLOW ENVIRONMENTAL ETHICS : TANTANGAN DALAM MEWUJUDKAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DI PANTAI BATU BUAYA DESA SUNGAI CUKA KABUPATEN TANAH BUMBU | |
| PENGARANG | : | RIANITA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-11-07 |
Penelitian ini mengkaji realitas pengelolaan ekowisata di Pantai Batu Buaya, Desa Sungai Cuka, Kabupaten Tanah Bumbu yang merepresentasikan sebuah paradoks: di satu sisi, dikembangkan sebagai model wisata alam berbasis komunitas, namun di sisi lain praktiknya di lapangan menunjukkan dominasi cara pandang antroposentris, seperti aktivitas tekanan berlebihan pada lingkungan untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Dengan menggunakan kerangka shallow environmental ethics, penelitian ini bertujuan untuk membedah spektrum persepsi masyarakat terhadap ekowisata, dan mengidentifikasi wujud praktiik pengelolan yang mencerminkan antroposentrisme tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Penelitian ini menemukan bahwa persepsi masyarakat tidaklah tunggal, melainkan terbentang dalam spektrum kompleks: dari persepsi positif yang didorong rasionalitas ekonomi, persepsi kritis yang berakar pada nilai ekologis-kultural, hingga persepsi ambivalen yang menjadi posisi dominan. Persepsi ini termanifestasi dalam praktik pengelolan yang antroposentris, di mana tindakan pro-lingkungan seperti menjaga kebersihan lebih berfungsi sebagai strategi pemasaran daripada tanggung jawab ekologis. Kemudian wujud antroposentrisme ini terlihat dalam berbagai praktik, mulai dari pembangunan fisik yang eksploitatif (antroposentrisme absolut) hingga praktik konservasi yang pragmatis (antroposentrisme moderat). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan ekowisata di Pantai Batu Buaya berada dalam kondisi ‘keberlanjutan semu’, di mana keberlanjutan ekonomi lebih diutamakan dengan mengorbankan keberlanjutan sosial-ekologis. Kontribusi penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana struktur ketergantungan baru mereproduksi ekologi dangkal di tingkat lokal, bahkan model pengelolaan yang idealnya partisipatif. Oleh karena itu, juga diperlukan transformasi paradigma pengelolaan ekowisata untuk menciptakan praktik beretika dan berkelanjutan.
Kata Kunci : ekowisata, persepsi, antroposentrisme, pengelolaan berbasis komunitas.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI