DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | MODEL KONSERVASI LINGKUNGAN PADA HUTAN TERFRAGMENTASI DI KAWASAN PASCATAMBANG BATU BARA | |
| PENGARANG | : | AGUSTAN SAINING | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-11-29 |
Agustan Saining. NIM 2241213310019. 2025. Program Studi S3 Ilmu Lingkungan. Fakultas Pascasarjana. Universitas Lambung Mangkurat. Model Pengembangan Konservasi Lingkungan pada Hutan Terfragmentasi di Kawasan Pascatambang Batu bara Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Udiansyah, M.Si; Wiwin Tyas Istikowati. S.Hut., M.Sc., Ph.D; Dr. Ir. Raden Mas Sukarna, M.Si.
Kabupaten Kapuas memiliki potensi pertambangan batu bara yang besar dan berdampak signifikan terhadap lingkungan, terutama melalui fragmentasi hutan dan degradasi lahan, serta menimbulkan tantangan sosial ekonomi. Meskipun memberikan kontribusi terhadap perekonomian, kerusakan ekosistem yang ditimbulkan serta distribusi manfaat yang tidak merata menuntut adanya kebijakan terpadu dan partisipasi aktif masyarakat. Pendekatan spasial dan teknologi SIG sangat penting untuk menganalisis perubahan lanskap dan mendukung upaya rehabilitasi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fragmentasi hutan, mengevaluasi secara holistik pengelolaan pascatambang, serta mengembangkan model konservasi inovatif yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi guna mendukung keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.
Penelitian ini menggunakan metode campuran kuantitatif-kualitatif dengan pendekatan ekologi spasial untuk mengembangkan model konservasi lingkungan di wilayah pascatambang batu bara di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang dipilih karena tingkat fragmentasi dan degradasi ekologisnya yang signifikan. Pengumpulan data dilakukan dari Februari 2024 hingga Agustus 2025 melalui penginderaan jauh (citra satelit Landsat 9 OLI-TIRS dan Sentinel-2A), analisis spasial berbasis GIS, observasi lapangan (survei vegetasi, analisis tanah, pemantauan lingkungan real-time), serta survei dan wawancara terstruktur dengan masyarakat terdampak (100 responden dari dua desa dipilih secara purposif) dan para ahli (tiga orang), pengambil kebijakan (empat orang), dan pemangku kepentingan (tiga orang). Analisis data meliputi interpretasi citra, analisis metrik lanskap, perhitungan indeks vegetasi dan keanekaragaman, pemodelan kesesuaian lahan, serta analisis SEM, SWOT dan AHP untuk merumuskan model konservasi spasial yang adaptif dan berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pascatambang batu bara masih didominasi lahan berkategori kehijauan tinggi seluas 5.096,927 ha, disertai lahan terbuka dan batuan 1.556,004 ha, kehijauan sedang 401,53 ha, kehijauan rendah 269,722 ha, serta kombinasi lahan terbuka, batuan, dan tubuh air 55,291 ha. Kondisi topografi yang relatif landai mendukung rehabilitasi, meskipun tanah didominasi Podsolik dan Latosol miskin hara dengan tingkat erosi tinggi pada area curam, sehingga pemulihan alami terbatas. Evaluasi NDVI pada tujuh titik pemantauan menunjukkan dua titik berhasil direklamasi (NDVI 0,5–0,8), tiga titik dalam tahap transisi (0,2–0,7), satu titik terdegradasi (<0,2), dan satu titik masih hutan alami (>0,6), dengan analisis tanah memperlihatkan pH masam (4,25–4,79), kandungan N rendah (0,30–0,32%), serta logam berat di bawah ambang deteksi. Secara sosial, instrumen penelitian valid dan reliabel (reliabilitas sosial-ekonomi = 0,827; persepsi lingkungan = 0,861; tata kelola = 0,709), dengan hasil SEM menunjukkan persepsi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat (koefisien jalur = 0,740; p = 0,000; korelasi = 0,736), sementara harapan tata kelola tidak signifikan. Analisis spasial mengidentifikasi 143 patch hutan pascatambang dengan 23 patch prioritas yang dapat dipulihkan melalui 5 koridor konservasi sepanjang ±42,6 km, terbukti akurat (Overall Accuracy 87,4%; Kappa 0,82). Implementasi koridor ini diproyeksikan meningkatkan stok karbon 28,4 ton/ha, menurunkan TSS 42%, memperbaiki pH air asam tambang dari 4,3 menjadi 6,1, serta meningkatkan pendapatan masyarakat 18–25% per tahun melalui tambahan 12 unit usaha ekowisata yang didukung pendanaan perusahaan tambang. Dengan demikian, model konservasi berbasis spasial dan ekologi ini dinilai efektif dalam memulihkan ekosistem, memperkuat biofisik, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjamin keberlanjutan pengelolaan pascatambang secara kolaboratif dan adaptif.
Kata Kunci: Konservasi, Pascatambang, Fragmentasi Hutan, Keberlanjutan Lingkungan, Spatial
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI