DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | FAKTOR - FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEIKUTSERTAAN PETANI PADI LAHAN RAWA LEBAK DALAM MENERAPKAN BUDIDAYA PADI APUNG DI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN | |
| PENGARANG | : | NUR ANISAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-12-04 |
Pada tahun 2019, potensi luas lahan rawa Kalimantan Selatan sebesar 525.029 ha. Akan tetapi, lahan rawa lebak masih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh petani lokal. Langkah nyata Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk memaksimalkan lahan rawa adalah dengan menanam padi apung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi petani padi rawa lebak dalam menerapkan budidaya padi apung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan serta menganalisis besarnya biaya, penerimaan, pendapatan bersih, serta kelayakan usahatani padi apung dan padi konvensional di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan serta proses penelitian dimulai pada bulan Desember 2024 sampai September 2025. Responden untuk penelitian ini berjumlah sebanyak 31 petani padi apung dan 31 petani konvensional yang tersebar di beberapa desa yang berada dalam Kecamatan Daha Barat, Kecamatan Daha Selatan, dan Kecamatan Daha Utara. Metode pengolahan data yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh kepada petani sawah lahan rawa lebak dalam menerapkan budidaya padi apung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah analisis regresi logit biner. Selain itu, untuk mengetahui pendapatan bersih yang diperoleh petani padi apung digunakan konsep biaya eksplisit dan implisit. Lalu, uji-t tidak berhubungan dilakukan untuk membedakan pendapatan bersih petani padi apung dengan padi konvensional. Berdasarkan hasil penelitian yang melalui pengolahan data menggunakan analisis regresi logit biner dengan tingkat kepercayaan 95% secara parsial menunjukkan bahwa keikutsertaan petani padi lahan rawa lebak dalam menerapkan budidaya padi apung dipengaruhi oleh kompleksitas, intensitas penanaman, partisipasi petani dalam sosialisasi dan/atau bimbingan teknis program padi apung, serta pengetahuan terhadap budidaya padi apung. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata total biaya usahatani padi apung sebesar Rp2.098.020/usahatani atau sebesar Rp42.687.647/ha, rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh petani padi apung sebesar Rp2.288.097/usahatani atau sebesar Rp46.575.414/, rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh oleh petani padi apung sebesar Rp119.007/usahatani atau sebesar 3.887.767/ha, dan rata-rata nilai Revenue Cost Rasio sebesar 1,09. Pada usahatani padi konvensional rata-rata total biaya sebesar Rp8.247.407/usahatani atau Rp8.495.418/ha. Rata-rata penerimaan yang diperoleh sebesar Rp10.753.629/usahatani atau Rp11.077.006/ha. Maka diperoleh nilai Revenue Cost Rasio (R/C) sebesar 1,30. Jika dilihat dari cost-effectiveness,rasio biaya terhadap penerimaan pada padi apung mencapai 0,92. Sehingga secara ekonomi usahatani padi apung tidak cost-effective.Berdasarkan hasil uji-t tidak berhubungan, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata pendapatan bersih usahatani padi apung dengan usahatani padi konvensional.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI