DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Gender dalam Crossdress Cosplay: Analisis Konstruksi Gender dalam Acara Cosplay di Banjarmasin | |
| PENGARANG | : | SHAMIYAH NOOR AZZAHRA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-12-09 |
Shamiyah Noor Azzahra. 2025. Gender dalam Crossdress Cosplay: Analisis Konstruksi Gender dalam Acara Cosplay di Banjarmasin. Dibimbing oleh Varinia Pura Damayanti, S.Sos., M.Si. Jurusan Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat.
Praktik crossdress dalam komunitas cosplay menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti karena melibatkan dinamika antara ekspresi diri, norma sosial, dan identitas gender. Di tengah masyarakat Banjarmasin yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan patriarkal, kehadiran crossdresser sering kali memicu stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang digunakan crossdresser dalam menghadapi stigma masyarakat serta bagaimana mereka menegosiasikan identitas melalui performativitas gender dalam aktivitas cosplay. Temuan dari penelitian ini diperoleh oleh teori dari Butler, Tajfel & Turner, serta Goffman, yang menunjukkan bahwa crossdress dalam cosplay adalah bagian dari proses negosiasi identitas di tengah tekanan norma sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan terdiri dari empat crossdresser dan dua informan masyarakat umum. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menemukan bahwa crossdresser laki-laki lebih rentan terhadap stigma sosial dibanding perempuan, terutama karena dianggap menyimpang dari norma gender. Sementara crossdresser perempuan cenderung lebih diterima karena tampilannya dianggap masih sesuai dengan norma. Untuk menghadapi penolakan ini, para informan menerapkan berbagai strategi seperti memilih karakter yang sopan, membatasi frekuensi tampil, dan memisahkan identitas cosplay dari kehidupan pribadi. Mereka juga menampilkan totalitas dalam performa sebagai bentuk negosiasi identitas, meski respons negatif tetap muncul.
Kata Kunci: Crossdress, Cosplay, Gender, Stigma, Identitas Sosial, Konstruksi Sosial Gender
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI