DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | STRATEGI MITIGASI KONFLIK ANTARA MANUSIA DAN BERUK (Macaca nemestrina) BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI DESA BUMI JAYA KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | ERNIAWATI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-12-15 |
ABSTRAK
ERNIAWATI,2025. “Strategi Mitigasi KonflikAntara Manusia dan Beruk (Macaca Nemestrina) Berdasarkan Persepsi Masyarakat di Desa Bumi Jaya Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.” Tesis, Program Studi Magister Kehutanan.Universitas Lambung Mangkurat. Dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. M. Arief Soendjoto, M.Sc. dan Dr. Arfa Agustina Rezekiah, S.Hut., M.P.
Kata kunci : Persepsi masyarakat, Mitigasi konflik, Kerusakan tanaman, Konflik manusia–satwa liar, Macaca nemestrina
Konflik manusia-satwa liar masih menjadi masalah yang mendesak di lanskap pedesaan, khususnya di mana perluasan pertanian tumpang tindih dengan habitat alami. Masyarakat di Desa Bumi Jaya, Kalimantan Selatan, sering mengalami konflik dengan beruk (Macaca nemestrina) yang merusak tanaman dan mengganggu mata pencaharian mereka. Disisi lain masyarakat juga harus menaati peraturan pemerintah yang melarang perburuan satwa liar untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab konflik manusia dengan beruk, menganalisis persepsi masyarakat lokal tentang konflik tersebut dan mengidentifikasi strategi mitigasi yang potensial dengan perilaku masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara melalui kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 30 responden yang dipilih secara sengaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama yang menjadi penyebab konflik manusia dengan beruk di Desa Bumi Jaya adalah populasi beruk yang berlebihan dengan persentase sebesar 40%, kurangnya sumber pakan di habitat alami sebesar 30%, berkurangnya habitat hutan bagi beruk sebesar 27%, dan kurangnya upaya pencegahan konflik sebesar 3%. Sebagian besar responden menganggap konflik semakin intens dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Meskipun ada dukungan kuat untuk metode pencegahan yang tidak mematikan dan upaya edukasi berbasis masyarakat, kesadaran tentang status konservasi spesies tersebut relatif rendah. Skor persepsi kumulatif menunjukkan tingkat kesadaran sedang dengan skor 181 dari maksimum 300[a1] . Temuan ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan intervensi berbasis pengetahuan dengan strategi pengelolaan konflik yang dapat diterima secara lokal. Meningkatkan pemahaman publik tentang masalah konservasi bersamaan dengan mendukung solusi praktis yang digerakkan oleh masyarakat dapat membantu mempromosikan koeksistensi yang lebih berkelanjutan antara manusia dan satwa liar.Strategi mitigasi yang cocok diterapkan yaitu “Aggressive Strategy” dengan beberapa alternatif strategi yaitu pelatihan mitigasi satwa liar dari BKSDA dan LSM Konservasi, melibatkan KTH untuk pengajuan proposal CSR untuk mendapatkan dana mandiri dalam pengelolaan konflik, modernisasi teknik pengusiran satwadan membangun sistem pencatatan konflik secara sistematis dan sistem peringatan dini berbasis warga.
[a1]Kesadaran masyarakat tergolong sedang dengan skor kumulatif 181 dari 300.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI