DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Model Matematika Penyebaran Penyakit Tuberkulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan
PENGARANG:YUNI YULIDA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-01-09


Yuni Yulida. 2341213320004. 2025. Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Lambung Mangkurat. Model Matematika Penyebaran Penyakit Tuberkulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan. Pembimbing: Prof. Dr. Drs. Eko Suhartono, M.Si.; Dewi Anggraini, S.Si., M.App.Sci., Ph.D; Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin, M.Pd. FISPH., FISCM.

 

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis (MTB), yang masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Sebagian besar infeksi MTB menyerang paru-paru, dikenal sebagai TB Paru. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia, setelah India. Penyebaran TB di Indonesia bervariasi antar provinsi dan kabupaten/kota. Berdasarkan Kemenkes RI (2023), estimasi jumlah kasus TB di Indonesia mencapai 969.000 kasus yang tersebar di 34 provinsi. Tiga daerah di Kalimantan Selatan dengan kasus terbanyak pada tahun 2022 adalah Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. TB adalah penyakit berbasis lingkungan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan seperti kondisi meteorologis dan fisik hunian rumah berperan penting dalam penularan TB paru. Faktor meteorologis meliputi curah hujan rata-rata, suhu rata-rata, dan kelembaban relatif. Selain itu, polusi udara, terutama paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dan PM10, sangat terkait dengan penyebaran TB Paru. Faktor fisik hunian rumah seperti luas ventilasi, kepadatan penghuni, pencahayaan, kelembapan, dan suhu juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penularan TB, perkembangan TB aktif, serta mengganggu proses pengobatan TB. TB tidak hanya masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan dinamika interaksi yang rumit antara manusia, mikroorganisme, dan lingkungan. Dinamika ini dapat diungkapkan melalui model matematika, yang telah menjadi alat efektif dalam memahami dan meramalkan penyebaran penyakit menular. Pemodelan matematika memungkinkan integrasi data epidemiologi dengan faktor lingkungan untuk menghasilkan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana TB berkembang dan menyebar dalam populasi.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan yang signifikan terhadap kejadian TB paru dengan menggunakan parameter fisik hunian sebagai indikator utama. Penelitian ini juga berupaya membentuk model matematika penyebaran TB paru dengan memperhatikan faktor lingkungan dan melakukan analisis model tersebut. Untuk mengetahui faktor lingkungan dengan parameter fisik, penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional, yaitu penelitian observasional di mana variabel faktor risiko dan efek diobservasi secara simultan. Populasi penelitian ini adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Martapura 1 dan Puskesmas Martapura 2. Analisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian TB Paru terdiri dari tiga tahap, yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Pada analisis bivariat, dilakukan penyajian distribusi data penelitian berdasarkan karakteristik responden serta faktor lingkungan hunian responden. Analisis univariat menggunakan uji Chi-square untuk menguji hubungan antara variabel independen, yaitu jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status merokok responden, status merokok anggota keluarga serumah, luas ventilasi, pencahayaan, suhu, kelembapan, dan kepadatan hunian, terhadap kejadian TB Paru.

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin, status merokok responden, luas ventilasi, dan suhu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB Paru. Selanjutnya, analisis multivariat dilakukan menggunakan uji regresi logistik biner untuk mengevaluasi pengaruh faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang berpengaruh signifikan adalah luas ventilasi dan suhu. Kemudian model regresi logistik biner digunakan untuk memprediksi probabilitas kejadian TB Paru. Hasil prediksi probabilitas kejadian TB Paru yang diperoleh berdasarkan kombinasi luas ventilasi dan suhu kemudian diintegrasikan ke dalam model penyebaran TB Paru. Model matematika penyebaran Tuberkulosis Paru dengan mempertimbangkan faktor lingkungan dibangun melalui modifikasi model SEIR pada komponen laju penularan. Dalam model klasik, laju penularan () merepresentasikan tingkat kontak antara individu rentan dan individu terinfeksi. Namun, pada model modifikasi ini,  diubah menjadi fungsi ?, yaitu laju penularan efektif yang diformulasikan berdasarkan pengaruh faktor lingkungan pada analisis multivariat. Hasil simulasi berbasis data pada model SEIR menunjukkan bahwa kualitas lingkungan hunian sangat memengaruhi penyebaran TB paru di Kabupaten Banjar, Martapura. Nilai probabilitas tinggi pada kondisi hunian buruk mempercepat peningkatan kasus, sedangkan skenario ideal menurunkan kasus infeksi secara signifikan. Pada kondisi parsial, ventilasi memenuhi standar lebih efektif menekan penularan dibanding suhu memenuhi standar, sehingga luas ventilasi yang memenuhi standar terbukti lebih krusial dalam pengendalian penyakit. 

 

Kata kunci: Modifikasi Model SEIR, TB Paru, Faktor lingkungan, Parameter fisik hunian.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI