DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Analisis Neraca Air untuk Berbagai Simulasi Pola Tanam pada Lahan Pertanian di Kabupaten Balangan | |
| PENGARANG | : | DESSY SYAWALIA RAHMA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-19 |
Kabupaten Balangan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki potensi pengembangan sektor pertanian yang cukup besar. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Balangan Tahun 2013–2026, wilayah ini diarahkan sebagai kawasan agropolitan yang didukung oleh kondisi tanah bertekstur halus dan ketersediaan lahan pertanian yang relatif luas. Namun, sebagian besar lahan sawah di wilayah ini masih mengandalkan sistem tadah hujan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa terdapat sembilan desa yang umumnya hanya melakukan penanaman satu kali dalam setahun. Perbedaan elevasi wilayah menyebabkan variasi ketersediaan air antara daerah low-land dan up-land. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya analisis ketersediaan air sebagai dasar penyusunan strategi pola tanam yang sesuai.
Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data lapangan serta data curah hujan dan klimatologi yang tersedia selama periode pengamatan penelitian. Analisis yang dilakukan meliputi perhitungan neraca air untuk mengetahui ketersediaan air, penentuan awal musim hujan berdasarkan data dasarian, perhitungan kebutuhan air tanaman, serta simulasi pola tanam pada wilayah low-land dan up-land. Simulasi pola tanam digunakan untuk membandingkan pola tanam eksisting dengan alternatif pola tanam dalam rangka peningkatan indeks pertanaman dan intensitas penanaman.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Balangan mengalami surplus air terbesar pada bulan Januari dan periode defisit air yang relatif panjang pada bulan Juli hingga September. Pada daerah low-land, kebutuhan air penyiapan lahan lebih tinggi karena waktu tanam dimulai pada bulan Juni saat curah hujan relatif rendah. Sebaliknya, pada daerah up-land, waktu tanam yang dimulai pada bulan November memperoleh suplai curah hujan awal musim yang lebih besar sehingga kebutuhan airnya relatif lebih rendah. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pola tanam eksisting dengan satu kali tanam padi (IP 100) masih dapat diterapkan, sedangkan peningkatan indeks pertanaman dan intensitas penanaman hanya dimungkinkan secara terbatas pada wilayah low-land dan memerlukan dukungan sumber air tambahan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI