DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Analisis Mineral Magnetik dan Logam Berat pada Sampel Sedimen Sungai Dari Daerah Pertambangan Emas Kecamatan Bajuin Kalimantan Selatan | |
| PENGARANG | : | SYAHDIANNOR | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-23 |
Penelitian dilakukan di Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu sampel sedimen sungai dari daerah pertambangan emas yang berada di Kecamatan Bajuin. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan nilai suseptibilitas magnetik, kandungan logam berat dan menentukan sebaran spatial berdasarkan distribusi nilai suseptibilitas dan kandungan logam pada kawasan sekitar pertambangan emas di Kecamatan Bajuin serta menentukan mineral magnetik apa saja yang terkandung pada sampel sedimen. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis karakteristik morfologi dari mineral magnetik dan menganalisis hubungan antara nilai suseptibilitas megnetik dengan logam berat yang terkandung pada sampel sedimen daerah pertambangan emas di Kecamatan Bajuin.
Penelitian ini yang dilakukan selama 6 bulan, meliputi survei lapangan, pengambilan sampel, preparasi sampel dan ekstraksi mineral magnetik. Adapun pengukuran sampel dilakukan menggunakan susceptibility meter untuk mengetahui nilai suseptibilitas magnetik dari sampel sedimen. Adapun untuk sampel hasil ekstraksi mineral magnetik dilakukan pengukuran menggunakan SEM-EDS untuk mengetahui morfologi dari mineral magnetik dan pengukuran menggunakan XRD dilakukan untuk mengetahui mineral magnetik apa saja yang terkandung pada sampel sedimen. Sementara itu, pengukuran kandungan logam berat dilakukan menggunakan XRF. Selanjutnya dilakukan analisis sebaran dan analisis hubungan nilai suseptibilitas magnetik dengan kandungan logam berat.
Hasil pengukuran nilai suseptibilitas magnetik sampel sedimen sungai dari 10 lokasi menunjukan variasi nilai yang berkisar 103,57 x 10-8 m3/kg – 957,94 x 10-8 m3/kg dengan nilai rata-rata 309,69 x 10-8 m3/kg. Rentang nilai tersebut mengindikasikan bahwa sedimen sungai yang diteliti memiliki kandungan yang kaya akan mineral ferrimagnetik. Kandungan logam berat yang terdapat pada sedimen sungai di area pertambangan emas Kecamatan Bajuin yaitu V, Cr, Mn, Fe, Ni, Cu dan Zn dengan rata-rata konsentrasi masing-masing logam berat yang masih dibawah ambang batas baku mutu lingkungan sedimen sungai. Nilai rata-rata logam berat menunjukkan urutan Fe > Mn > Cr > Ni > V > Cu > Zn. Mineral magnetik yang terkandung di kawasan sekitar pertambangan emas Kecamatan Bajuin didominasi oleh mineral oksida besiseperti terutama magnetit (Fe?O?) yang tersubstitusi seng (Zn-bearing), nikel (Ni-bearing), magnesium (Mg-bearing), dan kobalt (Co-bearing) serta Magnetit (Mg–Ti–Mn–Al substituted). Selain magnetit, mineral magnetik lain yang ditemukan adalah franklinit dan maghemit. Magnetit tersubstitusi umumnya berasal dari batuan mafik–ultramafik seperti basalt, diabase, gabbro. Karakteristik morfologi mineral magnetik yang diamati melalui analisis mikroskopi menunjukkan mineral magnetik berbentuk oktahedral dan tidak beraturan. Bentuk oktahedral lebih cenderung berasal dari proses pedogenik berupa pembentukan mineral alami dari pelapukan batuan induk. Bentuk tidak beraturan bisa berasal dari kombinasi pengaruh litogenik dan antropogenik. Secara spasial, nilai suseptibilitas magnetik sedimen menunjukkan pola zonasi yang jelas dari barat ke timur wilayah penelitian. Zona suseptibilitas rendah mendominasi bagian barat hingga barat daya, zona menengah berkembang di bagian tengah sebagai daerah transisi, sedangkan zona suseptibilitas tinggi hingga sangat tinggi terlokalisasi di bagian timur. Pola ini mengindikasikan adanya perbedaan sumber dan akumulasi mineral magnetik yang dikontrol oleh kondisi geologi setempat serta proses transport dan pengendapan sedimen sepanjang aliran sungai. Adapun distribusi logam berat V, Cr, Mn, Fe, Ni, Cu, dan Zn pada sedimen menunjukkan pola zonasi yang bervariasi dengan dominasi nilai rendah hingga menengah di sebagian besar area penelitian serta anomali lokal pada titik-titik tertentu. Pola sebaran ini mencerminkan pengaruh utama faktor geogenik, seperti litologi batuan sumber dan proses sedimentasi, dengan kontribusi antropogenik yang bersifat terbatas.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI