DIGITAL LIBRARY



JUDUL:PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN KEMIRI (Aleurites moluccana) DI KEBUN HUTAN (Forest Garden) OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK MERATUS DI DESA EMIL BARU KECAMATAN MANTEWE
PENGARANG:AGUSTINO
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-02-14


ABSTRAK

Agustino.2023.” Pengelolaan  Dan Pemanfaatan Kemiri(Aleurites moluccana) Di KebunHutan (Forest Garden) Oleh Masyarakat  Suku Dayak Meratus Di Desa Emil Baru Kecamatan Mantewe Tesis. Program Studi Magister Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing  Dr.Ir Zainal Abidin., M. Pdan Dr. Trisnu Satriadi., S.Hut M.Si

 

Kata kunci: kemiri, kebun hutan, Dayak Meratus, agroforestri, kearifan lokal

 

Penelitian ini mengkaji pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) oleh masyarakat Suku Dayak Meratus di Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe, Kalimantan Selatan, melalui sistem kebun hutan (Forest garden) sebagai bentuk agroforestri tradisional. Sistem ini mencerminkan praktik pengelolaan lahan berbasis kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kemiri ditanam bersama berbagai jenis tanaman lain seperti durian, bambu, enau, dan tanaman obat, sehingga menciptakan sistem pertanian yang beragam dan ramah lingkungan. Pengelolaan dilakukan tanpa bahan kimia, mengandalkan pengetahuan lokal dan kerja kolektif masyarakat. Pemanfaatan kemiri mencakup pemanenan biji untuk dijual dalam bentuk kering atau diolah menjadi minyak bernilai ekonomi tinggi yang digunakan dalam kebutuhan rumah tangga, produk herbal, dan kosmetik alami. Selain nilai ekonominya, kemiri memiliki makna budaya penting, digunakan dalam ritual adat sebagai simbol kesuburan dan perlindungan, serta menunjukkan prinsip sirkularitas melalui pemanfaatan limbah sebagai kompos atau bahan bakar. Secara ekologis, kebun hutan kemiri berperan dalam konservasi keanekaragaman hayati, mencegah erosi, dan menjaga keseimbangan ekosistem lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga kesinambungan ekologis dan warisan budaya. Untuk mendukung keberlanjutan, diperlukan sinergi berbagai pihak dalam penguatan kapasitas masyarakat, akses pasar, dan perlindungan wilayah kelola adat sebagai model pembangunan berbasis hutan yang berkelanjutan.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI