DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | ANALISIS EFISIENSI TEKNIS PRODUKSI CABAI TIUNG TANJUNG (Capsicum frutescens L) DI KABUPATEN TABALONG DENGAN METODE STOCHASTIC FRONTIER ANALYSIS (SFA) | |
| PENGARANG | : | RUSMILIANI OLFAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-04-01 |
Cabai merupakan komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpengaruh terhadap tingkat inflasi nasional. Di Kalimantan Selatan, cabai rawit varietas Tiung Tanjung (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas unggulan lokal yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Tabalong. Varietas ini memiliki potensi produksi mencapai 13,25–16,41 ton/ha, namun produktivitas aktual yang dicapai petani masih jauh di bawah potensi tersebut. Data menunjukkan tren penurunan luas panen dari 177 ha (2022) menjadi 134 ha (2023) dan 125 ha (2024), meskipun terdapat peningkatan produksi menjadi 1.140 ton pada tahun 2024. Kesenjangan antara produktivitas aktual dan potensial mengindikasikan adanya masalah efisiensi teknis dalam usahatani cabai Tiung Tanjung di Kabupaten Tabalong.
Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis tingkat efisiensi teknis produksi cabai Tiung Tanjung di Kabupaten Tabalong, dan (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis produksi cabai Tiung Tanjung di Kabupaten Tabalong. Penelitian dilakukan dengan mengambil 60 petani responden dari 10 kecamatan di Kabupaten Tabalong yang dikelompokkan menjadi tiga wilayah (utara, tengah, dan selatan) melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur pada tahun 2025. Metode analisis yang digunakan adalah Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model fungsi produksi Cobb-Douglas dan model inefisiensi teknis Battese-Coelli (1995).
Karakteristik petani responden menunjukkan bahwa rata-rata usia petani adalah 43,1 tahun, dengan 68,33% (41 orang) termasuk dalam usia produktif. Tingkat pendidikan didominasi SMA/sederajat (33,33%), diikuti SMP (28,33%), SD (26,67%), dan S1 (11,67%). Pengalaman berusahatani cabai sebagian besar di bawah 10 tahun (43,33%). Sebanyak 66,66% petani mengelola lahan di bawah 0,50 hektar, mencerminkan dominasi petani skala kecil di wilayah penelitian.
Hasil estimasi model fungsi produksi Stochastic Frontier Cobb-Douglas menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi dengan elastisitas tertinggi sebesar 0,845, menjadikannya faktor produksi utama. Pestisida berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien -0,123, mengindikasikan telah terjadi penggunaan berlebihan (overuse) yang bersifat kontraproduktif terhadap produktivitas. Benih, tenaga kerja, dan pupuk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik. Nilai gamma (γ) sebesar 0,886 mengonfirmasi bahwa 88,6% dari total variasi produksi disebabkan oleh faktor inefisiensi teknis yang dapat dikendalikan petani, bukan oleh faktor acak di luar kendali.
Tingkat efisiensi teknis rata-rata usahatani cabai Tiung Tanjung di Kabupaten Tabalong mencapai 77,2%, dengan nilai minimum 0,118 dan maksimum 0,935. Distribusi efisiensi menunjukkan 53,33% petani berada pada kategori efisiensi tinggi (0,8–0,9), namun hanya 5% yang mampu mencapai efisiensi di atas 0,9. Sebanyak 6,67% petani masih berada pada kategori inefisien ekstrem (TE < 0,5). Kesenjangan efisiensi sebesar 22,8% menunjukkan potensi peningkatan produksi dari rata-rata aktual 11,85 ton/ha menjadi 15,10 ton/ha tanpa penambahan input, semata-mata melalui perbaikan manajemen usahatani.
Analisis faktor-faktor inefisiensi teknis menunjukkan bahwa variabel pendidikan (δ? = -1,307), pengalaman bertani (δ? = -1,427), dan usia (δ? = -0,118) memiliki koefisien negatif yang berarti peningkatan ketiga variabel tersebut berkaitan dengan penurunan inefisiensi atau peningkatan efisiensi teknis. Sebaliknya, pelatihan (δ? = +0,606) memiliki koefisien positif yang mengindikasikan bahwa partisipasi dalam pelatihan berkaitan dengan peningkatan inefisiensi, kemungkinan disebabkan oleh kualitas dan relevansi pelatihan yang belum sesuai kebutuhan petani. Namun demikian, secara statistik tidak ada satupun variabel sosial ekonomi yang signifikan pada taraf 5% (t?,??(df=50) = 2,009). Secara deskriptif, terdapat kecenderungan yang jelas bahwa petani dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki efisiensi teknis yang lebih tinggi: SD (0,61), SMP (0,73), SMA (0,80), dan S1 (0,84).
Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi prioritas utama untuk mengatasi penggunaan pestisida yang berlebihan. Optimalisasi luas tanam melalui pola tanam intensif pada lahan existing perlu diprioritaskan mengingat kontribusi luas lahan yang paling besar terhadap produksi. Program penyuluhan perlu difokuskan pada petani dengan efisiensi rendah (TE < 0,7), disertai penguatan kelembagaan melalui sistem sekolah lapangan dan kelompok tani. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji analisis ekonomi kelayakan pengurangan pestisida, studi resistensi hama, serta analisis efisiensi alokatif dan ekonomi secara komprehensif.
Kata Kunci: efisiensi teknis, cabai Tiung Tanjung, Stochastic Frontier Analysis, inefisiensi teknis, Kabupaten Tabalong
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI