DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Analisis Perbandingan Parameter TDS dan pH Kualitas Air Baku dan Air Produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Kabupaten Barito Kuala | |
| PENGARANG | : | ANNISA NABILA RAHMATIAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-04-28 |
Kabupaten Barito Kuala memiliki wilayah rawa pasang surut yang didominasi oleh lahan gambut, sehingga kualitas air baku cenderung lebih rendah dibandingkan daerah lain di Kalimantan Selatan, yang menjadi tantangan bagi PDAM dalam menghasilkan air minum yang memenuhi standar kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air baku (intake) dan air produksi berdasarkan parameter TDS dan pH, serta efisiensi proses pengolahan di 13 IPA IKK. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengukuran TDS dan pH secara in-situ menggunakan alat terkalibrasi dan metode grab sampling. Data kemudian dibandingkan dengan baku mutu air baku Kelas I (PP No. 22 Tahun 2021) dan air minum (Permenkes No. 2 Tahun 2023). Analisis statistik dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk, Wilcoxon Signed Rank Test, dan regresi linear sederhana untuk mengukur hubungan dan koefisien determinasi (R²). Hasil menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (Sig. < 0,05), sehingga uji Wilcoxon digunakan, yang menunjukkan nilai Asymp. Sig. TDS = 0,116 (>0,05), mengindikasikan tidak ada perbedaan signifikan antara air baku dan air produksi, yang menunjukkan pengolahan belum optimal. Untuk pH, nilai Sig. = 0,917 (>0,05) menunjukkan variasi kenaikan dan penurunan pH yang beragam. Regresi linear menunjukkan bahwa TDS air baku mempengaruhi kualitas air produksi (R = 0,936, R² = 87,7%, Sig. < 0,001), sedangkan pH air baku hanya mempengaruhi 5,3% variasi pH air produksi (R = 0,230, Sig. = 0,45). Pengukuran TDS air baku menunjukkan semua IPA IKK memenuhi baku mutu (27–648 mg/L), namun 2 IPA air produksi tidak memenuhi baku mutu (631–686 mg/L). Untuk pH, 8 IPA air baku memenuhi baku mutu (6,48–6,93), dan 7 IPA air produksi memenuhi baku mutu (6,50–7,29). Efisiensi penurunan TDS berkisar antara −112% hingga 60%, dengan kinerja pengolahan yang masih belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengendalian operasional, optimasi dosis bahan kimia, serta pemantauan kualitas air secara berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja pengolahan.
Kata kunci: Kualitas air, TDS, pH, efisiensi pengolahan, IPA IKK, PDAM
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI