DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Analisis Daya Saing Crude Palm Oil (CPO) Indonesia di Pasar Internasional (Periode Pra, Selama, dan Pasca Pandemi COVID-19)
PENGARANG:JAYADI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-05-27


Indonesia merupakan produsen dan eksportir Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 59% dari total produksi global dan total produksi mencapai 45,5 juta ton per tahun. Komoditas ini menjadi salah satu andalan utama perekonomian nasional, dengan dua negara penyerap terbesar yaitu India dan China yang secara kumulatif menyerap lebih dari 30% nilai ekspor CPO Indonesia. Dalam periode 2017–2025, perdagangan CPO Indonesia menghadapi serangkaian gangguan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencakup pandemi COVID-19, kebijakan biodiesel domestik dari B30 menjadi B35, penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), pemberlakuan larangan ekspor pada April–Mei 2022, serta tekanan regulasi keberlanjutan dari Uni Eropa melalui EU Deforestation Regulation (EUDR) yang berlaku sejak Juni 2023. Konvergensi peristiwa-peristiwa ini menciptakan kebutuhan untuk memahami secara komprehensif bagaimana kinerja ekspor dan daya saing CPO Indonesia merespons gangguan eksternal yang besar dan berurutan.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kinerja ekspor CPO Indonesia pada periode pra-pandemi (2017–2019), selama pandemi (2020–2021), dan pasca-pandemi (2022–2025) berdasarkan nilai ekspor, volume ekspor, dan harga CPO internasional, untuk mengidentifikasi pola perubahan dan dampak pandemi terhadap perdagangan CPO; serta (2) menganalisis daya saing ekspor CPO Indonesia berdasarkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, dengan fokus pada pasar China dan India sebagai dua pasar tujuan terbesar, untuk memberikan rekomendasi peningkatan posisi Indonesia di pasar internasional.

Penelitian menggunakan data sekunder periode 2017–2025 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), UN Comtrade, World Bank Commodity Markets, dan United States Department of Agriculture (USDA). Analisis untuk Tujuan 1 dilakukan dengan pendekatan deskriptif yang menjabarkan perkembangan nilai ekspor, volume ekspor, dan harga CIF Rotterdam, serta dekomposisi Constant Market Share (CMS) yang menguraikan perubahan nilai ekspor ke dalam empat efek: World Growth Effect (WGE), Commodity Composition Effect (CCE), Market Distribution Effect (MDE), dan Competitiveness Effect (CE). Analisis untuk Tujuan 2 menggunakan dua kelompok indikator: keunggulan komparatif diukur dengan Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Index of Specialization in Trade (ISP), sedangkan keunggulan kompetitif diukur dengan Export Product Dynamics (EPD), Acceleration Ratio (AR), dan X-Model yang mengintegrasikan kedua dimensi tersebut.

Hasil analisis kinerja ekspor menunjukkan bahwa perubahan nilai ekspor CPO Indonesia lebih banyak digerakkan oleh dinamika harga internasional dibandingkan oleh perubahan volume. Fase pra-pandemi mencatat penurunan nilai ekspor sebesar 20,5% meski volume tumbuh tipis, fase selama pandemi mencatat lonjakan nilai akibat kenaikan harga 53,3% di tengah kontraksi volume 7,4%, dan fase pasca-pandemi menghasilkan total nilai ekspor tertinggi sebesar USD 94.073,86 juta namun disertai fluktuasi tahunan yang tajam termasuk koreksi harga 32,64% pada 2023. Hasil dekomposisi CMS mengungkapkan pola paradoksal: pada transisi pra ke selama pandemi, penurunan nilai ekspor sebesar USD 5.637,30 juta sepenuhnya disebabkan kontraksi pasar dunia (WGE negatif USD 14.315,22 juta), sementara CE justru positif USD 21.649,20 juta yang membuktikan ketangguhan daya saing Indonesia di tengah guncangan global. Sebaliknya, pada transisi selama ke pasca pandemi, pertumbuhan ekspor sebesar USD 49.953,91 juta hampir seluruhnya ditopang oleh ekspansi pasar dunia (WGE USD 63.526,07 juta) sementara CE bernilai negatif, mengindikasikan erosi pangsa pasar relatif justru ketika pasar global ekspansif.

Hasil analisis daya saing menunjukkan bahwa keunggulan komparatif CPO Indonesia berada pada kategori sangat kuat secara konsisten, dengan rata-rata RCA 58,20 (pra-pandemi), 54,12 (selama pandemi), dan 44,31 (pasca-pandemi), yang seluruhnya jauh melampaui ambang RCA > 2,5. Nilai ISP yang konsisten mendekati +1 di kisaran 0,9978–0,9999 mengkonfirmasi posisi Indonesia sebagai eksportir neto CPO yang terspesialisasi sangat tinggi. Namun, tren penurunan RCA dan nilai AR yang selalu di bawah 1 di seluruh transisi periode (0,4806; 0,6356; 0,7912) mengindikasikan bahwa keunggulan komparatif berbasis sumber daya alam ini belum sepenuhnya ditranslasikan menjadi keunggulan kompetitif yang dinamis, sebagaimana tercermin dari CE negatif dan erosi pangsa pasar relatif pada fase pasca-pandemi.

Analisis EPD dan X-Model menunjukkan trayektori kompetitif yang berbeda di kedua pasar utama. China secara keseluruhan terkategorikan Rising Star dengan peningkatan pangsa 11,80% terhadap pertumbuhan daya tarik pasar 27,44%, dan dominan masuk kategori Pasar Optimis pada dua dari tiga transisi periode, menjadikannya pasar paling stabil bagi ekspor CPO Indonesia. India secara keseluruhan terkategorikan Falling Star dengan penurunan pangsa Indonesia sebesar 20,68% meski daya tarik pasar India tumbuh pesat 68,81%, mengindikasikan erosi posisi kompetitif yang memerlukan perhatian strategis. Hasil X-Model mengonfirmasi bahwa kedua pasar tidak pernah jatuh ke kategori Pasar Kurang Potensial maupun Pasar Tidak Potensial, sehingga keduanya tetap layak dipertahankan dengan pendekatan strategi yang berbeda.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa CPO Indonesia menempati posisi daya saing yang paradoksal: sangat kuat secara komparatif berdasarkan RCA dan ISP, namun memerlukan penguatan substansial pada dimensi keunggulan kompetitif sebagaimana ditunjukkan oleh CE negatif, AR di bawah 1, dan posisi Falling Star di pasar India. Respons strategis yang direkomendasikan mencakup tiga arah utama: diversifikasi pasar tujuan ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika yang menunjukkan pertumbuhan signifikan; pemulihan posisi kompetitif di pasar India melalui negosiasi tarif bilateral dan pengembangan produk olahan; serta akselerasi hilirisasi industri kelapa sawit untuk mengubah keunggulan berbasis sumber daya alam menjadi keunggulan kompetitif berbasis nilai tambah yang lebih dinamis dan berkelanjutan.

Kata kunci:    CPO, daya saing, CMS, Revealed Comparative Advantage (RCA), EPD, pandemi COVID-19, X-Model

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI