DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Pengaruh Pemberian Pupuk Antazam di Tiga Lokasi Sawah Sulfat Masam Kalimantan Selatan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Inpari IR Nutri Zinc | |
| PENGARANG | : | UMI GINANTO | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-06-15 |
Umi Ginanto. 2026. Pengaruh Pemberian Pupuk Antazam di Tiga Lokasi Sawah Sulfat Masam Kalimantan Selatan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Inpari IR Nutri Zinc. Pembimbing: Dr. Joko Purnomo, S.P., M.P.; Prof. Dr. Ir. Hj. Raihani Wahdah, M.S.
Pergeseran fungsi sawah produktif beririgasi teknis menjadi kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur nonpertanian menurunkan kapasitas produksi pangan nasional, sementara pertambahan penduduk terus meningkatkan kebutuhan beras. Kondisi ini menuntut peningkatan produksi melalui inovasi budidaya padi yang produktif dan bernilai gizi tinggi. Varietas padi Inpari IR Nutri Zinc berpotensi mendukung pencegahan stunting karena memiliki kandungan seng (Zn) tinggi. Pengembangannya relevan pada lahan rawa sulfat masam seluas ±6,7 juta ha, meskipun lahan ini memiliki kendala pH sangat masam, toksisitas Fe dan Al, serta rendahnya ketersediaan hara. Oleh karena itu, diperlukan kajian pemupukan yang mengandung K, Mg, dan Zn untuk meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan, dan hasil padi Inpari IR Nutri Zinc melalui rekomendasi spesifik lokasi. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengkaji pengaruh interaksi antara dosis pupuk Antazam dengan lokasi sawah sulfat masam terhadap pertumbuhan dan hasil padi Inpari IR Nutri Zinc. (2) Mengkaji pengaruh masing-masing faktor tunggal dosis pupuk Antazam dan lokasi sawah sulfat masam terhadap pertumbuhan dan hasil padi Inpari IR Nutri Zinc. (3) Memperoleh dosis pupuk Antazam yang tepat di masing-masing lokasi sawah sulfat masam untuk pertumbuhan dan hasil padi Inpari IR Nutri Zinc yang optimal.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan tersarang dalam lokasi. Faktor pertama adalahlokasi sawah sulfat masam (L), yaitu di Kabupaten Tapin (l1), Kabupaten Banjar (l2), dan Kabupaten Barito Kuala (l3). Faktor kedua adalah dosis pupuk Antazam (A), yaitu 5 kg ha-1 (a1), 10 kg ha-1 (a2), 15 kg ha-1 (a3), 20 kg ha-1 (a4), dan kontrol 0 kg ha-1 (a0). Penelitian dilaksanakan dari bulan April - September 2025.
Hasil uji-t terhadap sifat kimia tanah bahwa dosis pupuk Antazam hanya berpengaruh pada P2O5-tersedia di lokasi l3. Terhadap Fe-terlarut disetiap lokasi jika dibandingkan dengan uji tanah awal dosis pupuk Antazam menurun signifikan. Dosis a4 mampu menurunkan Fe-terlarut di lokasi l1 sebesar 51,60%; dosis a2 di lokasi l2 sebesar 51,06%; dan di lokasi l3 sebesar 49,09%. Terhadap pH (H2O) dosis a2 di lokasi l1 meningkat sebesar 53,47%; di lokasi l3 sebesar 0,53%; dan dosis a4 di lokasi l3 sebesar 7,95%. Kandungan SO4-terlarut meningkat sejalan dengan peningkatan sulfur pada pemupukan. Interaksi antara lokasi sawah sulfat masam dengan dosis pupuk Antazam berpengaruh nyata – sangat nyata. Berpengaruh nyata terhadap peubah tinggi tanaman umur 4 MST, berat kering tanaman umur 5 MST dan 6 MST, persentase gabah isi per malai, berat 1000 butir gabah bernas, dan efisiensi agronomi; berpengaruh sangat nyata terhadap peubah indekas luas daun umur 5 MST – 8 MST, berat kering tanaman umur 7 MST, SLA umur 7 MST, dan jumlah gabah per malai. Lokasi sawah sulfat masam berpengaruh nyata terhadap peubah tinggi tanaman umur 3 MST dan 4 MST, serta indeks luas daun umur 8 MST; berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah, kecuali jumlah anakan per rumpun umur 6 MST – 8 MST, berat kering tanaman umur 8 MST, specific leaf area umur 5 MST, 6 MST, dan 8 MST; RGR dan NAR semua periode umur pengamatan, jumlah anakan produktif, berat 1000 butir gabah bernas, hasil ubinan, berat gabah kering giling, kandungan Zn dalam beras dan efisiensi agronomi. Dosis berpengaruh nyata terhadap peubah tinggi tanaman umur 4 MST – 6 MST, specific leaf area umur 6 MST dan 8 MST, serta RGR periode umur 5-6 MST; berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah, kecuali RGR periode umur 6-7 MST dan 7-8 MST, NAR semua periode umur pengamatan, jumlah anakan produktif dan kandungan Zn dalam beras. Kombinasi sawah sulfat masam Kabupaten Tapin dengan dosis pupuk Antazam 10 kg ha-1 (l1a2) menghasilkan peubah tinggi tanaman lebih tinggi (65,10 cm) umur 4 MST, berat kering tanaman lebih tinggi (15,06 g dan 21,21 g) umur 5 MST dan 6 MST, indeks luas daun lebih besar (5,43 dan 6,55) pada umur 5 MST dan 6 MST; dengan dosis 15 kg ha-1 (l1a3) menghasilkan peubah persentase gabah ini per malai lebih tinggi (96,91%), dan berat 1000 butir gabah bernas lebih besar (25,38 g). Kombinasi sawah sulfat masam Kabupaten Banjar dengan dosis pupuk Antazam 15 kg ha-1 (l2a3) menghasilkan peubah indeks luas daun paling besar (7,69 dan 9,27) pada umur 7 MST dan 8 MST, berat kering tanaman paling tinggi (27,49 g) pada umur 7 MST, jumlah gabah per malai lebih banyak (138,35 butir). Kombinasi sawah sulfat masam Kabupaten Barito Kuala dengan dosis pupuk Antazam 10 kg ha-1 (l3a2) menghasilkan peubah SLA lebih rendah (235,25 cm2 g-1) umur 7 MST; dengan dosis 15 kg ha-1 (l3a3) menghasilkan peubah efisiensi agronomi paling besar (257,29 kg gabah kg-1 pupuk Antazam).
Kata Kunci: tanah masam, pembenah tanah, ketahanan pangan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI