DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Hubungan kerapatan lamun dengan kelimpahan makrozoobenthos di perairan sungai dua laut kabupaten tanah bumbu provinsi kalimantan selatan | |
| PENGARANG | : | SABILA FEBRIYANTO | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-06-29 |
Padang lamun memiliki peran ekologis yang sangat vital di perairan pesisir, di antaranya sebagai produsen primer, perangkap sedimen, serta tempat perlindungan, pengasuhan, dan mencari makan bagi berbagai organisme laut, termasuk makrozoobenthos. Makrozoobenthos yang memiliki mobilitas terbatas dan hidup menetap di dasar perairan sering digunakan sebagai indikator biologis yang efektif untuk mengevaluasi kesehatan dan kualitas lingkungan suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerapatan spesies lamun, kelimpahan makrozoobenthos, serta menganalisis hubungan pengaruh antara kerapatan lamun terhadap kelimpahan makrozoobenthos di Perairan Sungai Dua Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024 sampai Juni 2026 menggunakan metode Purposive Sampling yang terbagi menjadi dua stasiun pengamatan, yaitu Karang Batu Anugrah (Stasiun 1) dan Karang Penyulingan (Stasiun 2). Pengumpulan data lamun dilakukan saat air surut menggunakan metode transek kuadrat (ukuran 50 cm x 50 cm) yang ditarik tegak lurus dari garis pantai. Identifikasi makrozoobenthos dilakukan pada setiap stasiun, dan analisis hubungan antara kedua variabel diuji menggunakan korelasi sederhana (Pearson Correlation) melalui perangkat lunak SPSS dan Microsoft Excel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Perairan Sungai Dua Laut ditemukan 3 spesies lamun, yaitu Halodule uninervis, Halophila ovalis, dan Syringodium isoetifolium dengan tipe vegetasi campuran. Spesies Halophila ovalis mendominasi kawasan perairan ini dengan rata-rata tegakan tertinggi. Kerapatan total lamun di Stasiun 1 berkisar antara 360–1.004 ind/m² (kategori rapat), sedangkan pada Stasiun 2 berkisar antara 888–2.616 ind/m² (kategori sangat rapat). Persentase penutupan lamun rata-rata di kedua stasiun tergolong dalam kategori jarang, yakni sebesar 6,8% pada Stasiun 1 dan 8% pada Stasiun 2. Makrozoobenthos yang berhasil diidentifikasi terdiri dari 2 kelas utama, yaitu Bivalvia (2 spesies: Meretrix lyrata dan Anadara pilula) serta Gastropoda (6 spesies: Conus magus, Polinices mammilla, Rhinoclavis aspera, Rhinoclavis vertagus, Cerithium coralium, dan Cerithium traillii), yang didominasi oleh genus Cerithium.
Berdasarkan analisis statistik, hubungan antara kerapatan lamun dan kelimpahan makrozoobenthos di lokasi penelitian menunjukkan arah garis linier yang negatif (-). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi nilai kerapatan lamun di suatu titik, maka tingkat kelimpahan makrozoobenthos justru menjadi semakin rendah. Hal ini diduga terjadi karena sistem perakaran lamun yang semakin rapat dan padat membatasi ruang gerak ideal bagi pergerakan makrozoobenthos, terutama dari filum moluska.
Kata Kunci: Lamun, Kerapatan, Makrozoobenthos, Kelimpahan, Sungai Dua Laut, Korelasi Negatif.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI