DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | ABSTRAK Terjebak Filter Bubble : Perilaku Konsumtif Pembelian Skincare pada Mahasiswa Baru FISIP ULM | |
| PENGARANG | : | DIFA SALSABILA KOSO | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-07-03 |
Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana peran algoritma filter bubble membentuk perilaku konsumtif pembelian produk skincare pada mahasiswa baru FISIP ULM. Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis pengaruh konten media sosial terhadap persepsi kebutuhan mahasiswa baru yang sedang mengalami masa transisi, melalui pendekatan fenomenologi deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari tujuh mahasiswa baru angkatan 2025 (berbeda jurusan) yang merupakan pengguna aktif TikTok ,konsumen rutin skincare, dan sedang merantau. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teori konsumerisme dari Jean Baudrillard melalui konsep nilai tanda, hiperrealitas, dan simulakra.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma filter bubble menciptakan homogenitas informasi yang memicu pembelian impulsif akibat ilusi popularitas produk. Fenomena ini membentuk kondisi hiperrealitas di mana standar kecantikan digital menggeser orientasi konsumsi dari nilai guna menjadi nilai tanda demi pengakuan sosial. Mahasiswa melakukan pengembangan citra diri melalui proses simulakra, di mana penggunaan skincare viral berfungsi sebagai alat komunikasi simbolis dalam pergaulan di kampus. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa algoritma TikTok (Filter Bubble) bekerja secara sistematis menciptakan homogenitas informasi yang secara perlahan meruntuhkan rasionalitas mahasiswa. Paparan konten skincare yang repetitif tidak hanya mendorong keinginan membeli melalui ilusi popularitas (social proof), tetapi juga mengonstruksi standar kecantikan hiperreal, yang sebenarnya mustahil dicapai secara alami. Akibatnya, terjadi pergeseran pemaknaan kebutuhan di mana mahasiswa tidak lagi memandang kondisi kulit asli mereka secara objektif, melainkan membandingkannya dengan citra digital yang sempurna. Peneliti menyarankan peningkatan literasi digital bagi mahasiswa agar lebih kritis terhadap narasi industri kecantikan dan tekanan standar kecantikan digital.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI