DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Keanekaragaman Serangga pada Sistem Budidaya Monokultur dan Tumpangsari Kopi Liberika di Kabupaten Tapin | |
| PENGARANG | : | FITRI MUSTIARAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-07-27 |
Serangga merupakan salah satu komponen penting dalam agroekosistem karena berperan sebagai hama, predator, parasitoid, penyerbuk, maupun dekomposer yang memengaruhi keseimbangan ekosistem pertanian. Struktur vegetasi yang berbeda antara sistem budidaya monokultur dan tumpangsari diduga memengaruhi struktur komunitas serangga yang hidup di dalamnya. Di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, kopi liberika umumnya dibudidayakan secara monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman karet, namun informasi mengenai perbedaan keanekaragaman serangga pada kedua sistem tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keanekaragaman, komposisi komunitas, status fungsional, dan struktur komunitas serangga pada sistem budidaya kopi liberika monokultur dan tumpangsari kopi–karet di Kabupaten Tapin.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari–April 2026 di Desa Burakai (monokultur) dan Desa Puncak Harapan (tumpangsari), Kabupaten Tapin. Penelitian menggunakan metode survei eksploratif deskriptif dengan pengambilan sampel dilakukan sebanyak satu kali pada periode tanaman menghasilkan (TM) di kedua lokasi menggunakan perangkap yellow trap, light trap, pitfall trap, dan insect net untuk memperoleh kelompok serangga yang lebih representatif. Seluruh sampel diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi hingga tingkat spesies, kemudian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H'), indeks kekayaan jenis Margalef (R), indeks kemerataan Pielou (E), dan indeks dominansi Simpson (D).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem monokultur ditemukan sebanyak 619 individu yang terdiri atas 22 spesies, 18 famili, dan 6 ordo, sedangkan pada sistem tumpangsari ditemukan 647 individu yang terdiri atas 45 spesies, 27 famili, dan 6 ordo. Ordo Diptera merupakan kelompok dengan jumlah individu tertinggi pada kedua sistem budidaya dan didominasi oleh Megaselia sp. Sistem tumpangsari memiliki jumlah spesies predator, parasitoid, dan dekomposer yang lebih tinggi dibandingkan monokultur, sehingga menunjukkan komunitas serangga yang lebih lengkap secara fungsional. Nilai indeks keanekaragaman (H' = 1,491), kekayaan jenis (R = 6,789), dan kemerataan (E = 0,391) pada sistem tumpangsari lebih tinggi dibandingkan monokultur (H' = 0,992; R = 3,266; E = 0,321), sedangkan nilai dominansi lebih rendah pada tumpangsari (D = 0,514) dibandingkan monokultur (D = 0,649). Meskipun jumlah individu pada kedua sistem relatif hampir sama, sistem tumpangsari memiliki jumlah spesies yang jauh lebih tinggi, menunjukkan bahwa keberadaan tanaman karet sebagai penaung mampu meningkatkan heterogenitas habitat, menyediakan mikrohabitat yang lebih beragam, serta mendukung keberadaan berbagai kelompok serangga yang berperan dalam menjaga kestabilan agroekosistem.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem budidaya tumpangsari kopi-karet lebih mendukung keanekaragaman dan kestabilan komunitas serangga dibandingkan sistem monokultur kopi liberika. Peningkatan kompleksitas vegetasi pada sistem tumpangsari berkontribusi terhadap meningkatnya kekayaan jenis, keberadaan musuh alami, serta keseimbangan struktur komunitas serangga, sehingga sistem ini berpotensi menjadi alternatif budidaya kopi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI