DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ESTIMASI NILAI EKONOMI KARBON DI PBPH-HTI PT. HUTAN RINDANG BANUA SITE SEBAMBAN UNTUK MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
PENGARANG:HILMAN FAHMI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-07-27


Perubahan iklim akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO?), menjadi isu penting yang menuntut penguatan aksi mitigasi berbasis pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Sektor kehutanan memiliki peran strategis karena hutan mampu menyerap dan menyimpan karbon melalui biomassa vegetasi, bahan organik, serta karbon tanah. Cadangan karbon hutan tidak hanya merepresentasikan fungsi ekologis, tetapi juga mulai menjadi aset ekonomi melalui kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), perdagangan karbon, dan target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kondisi tersebut menempatkan pengukuran cadangan karbon sebagai dasar penting dalam menilai potensi jasa lingkungan karbon pada tingkat unit pengelolaan hutan.

PT. Hutan Rindang Banua (HRB) Site Sebamban sebagai perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) memiliki peluang untuk mengembangkan Forest Carbon Project melalui optimalisasi cadangan karbon pada areal efektif yang dikelolanya. Areal tersebut memiliki variasi tutupan lahan berupa hutan tanaman, hutan lahan kering sekunder, perkebunan, dan semak belukar yang masing-masing memiliki kemampuan berbeda dalam menyimpan karbon. Informasi mengenai besaran cadangan karbon, nilai ekonomi karbon, dan kontribusinya terhadap mitigasi perubahan iklim menjadi dasar penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi pengelolaan karbon. Penelitian ini diperlukan untuk menyediakan data kuantitatif yang dapat digunakan sebagai landasan pengembangan usaha karbon, perdagangan karbon, dan penguatan pengelolaan hutan berkelanjutan di PT. Hutan Rindang Banua Site Sebamban.

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi cadangan karbon, menganalisis nilai ekonomi karbon, dan menilai kontribusi penyimpanan karbon terhadap mitigasi perubahan iklim di areal PBPH-HTI PT. Hutan Rindang Banua Site Sebamban. Lokasi penelitian mencakup areal efektif seluas 18.936,51 ha yang terdiri atas hutan tanaman, hutan lahan kering sekunder, perkebunan, dan semak belukar. Pengukuran cadangan karbon dilakukan berdasarkan SNI 7724:2019 dengan mencakup lima komponen karbon, yaitu Above Ground Biomass (AGB), Below Ground Biomass (BGB), kayu mati, seresah, dan karbon organik tanah. Penentuan jumlah plot dilakukan menggunakan Winrock Carbon Stock Calculator dengan total 79 plot pengamatan yang tersebar pada seluruh strata tutupan lahan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa total cadangan karbon tahun 2025 mencapai 1.215.265,32 ton C atau setara dengan 4.460.023,73 ton CO?e. Cadangan karbon tertinggi terdapat pada hutan lahan kering sekunder sebesar 113,11 ton C/ha atau 415,11 ton CO?e/ha. Cadangan karbon terendah terdapat pada semak belukar sebesar 21,60 ton C/ha atau 79,27 ton CO?e/ha. Hutan tanaman memiliki cadangan karbon sebesar 73,15 ton C/ha atau 268,46 ton CO?e/ha, sedangkan perkebunan memiliki cadangan karbon sebesar 87,12 ton C/ha atau 319,73 ton CO?e/ha.

Kondisi baseline tahun 2023 menunjukkan total cadangan karbon sebesar 1.086.270,64 ton C atau setara dengan 3.986.711,59 ton CO?e. Perbandingan antara baseline tahun 2023 dan kondisi tahun 2025 menunjukkan adanya tambahan serapan karbon sebesar 473.312,14 ton CO?e. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan tutupan lahan di areal penelitian berpengaruh terhadap perubahan simpanan karbon pada tingkat tapak. Perbandingan dengan nilai Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia juga memperlihatkan adanya variasi cadangan karbon yang dipengaruhi oleh kondisi biofisik, struktur vegetasi, umur tegakan, dan riwayat pengelolaan lahan.

Nilai ekonomi karbon dari tambahan serapan sebesar 473.312,14 ton CO?e menunjukkan potensi yang prospektif bagi pengembangan usaha karbon PT. Hutan Rindang Banua. Pada skema Voluntary Carbon Market (VCM), estimasi nilai ekonomi karbon berkisar antara Rp36.208.076.936,26 hingga Rp111.946.854.339,39. Verra melalui Verified Carbon Standard (VCS) menjadi skema yang direkomendasikan karena relevan untuk proyek karbon berbasis kehutanan, dengan potensi nilai sebesar Rp59.296.050.700,32. Pada skema Compliance Carbon Market (CCM), estimasi nilai ekonomi karbon berkisar antara Rp28.796.070.598,72 hingga Rp785.076.303.453,17, dengan IDXCarbon sebagai pasar domestik yang direkomendasikan untuk pengembangan awal perdagangan karbon HRB sebesar Rp28.796.070.598,72.

Kontribusi tambahan serapan karbon PT. Hutan Rindang Banua Site Sebamban terhadap target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 mencapai 0,34% dari target nasional sebesar 140.000.000 ton CO?e. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hutan tanaman industri pada tingkat unit manajemen dapat memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi perubahan iklim. Strategi pengelolaan seperti pencegahan deforestasi, Improved Forest Management (IFM), serta Afforestation, Reforestation, and Revegetation (ARR) berpotensi meningkatkan stok karbon pada areal yang masih memiliki cadangan karbon rendah. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa areal PT. Hutan Rindang Banua Site Sebamban layak dipertimbangkan sebagai basis pengembangan Forest Carbon Project yang mengintegrasikan manfaat ekologis dan nilai ekonomi karbon.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI