DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Prarancangan Pabrik Isobutilena Dari Tersier Butil Alkohol Dengan Proses Dehidrasi Menggunakan Katalis Styrene-Divinylbenzene Kapasitas 25.000 Ton/Tahun | |
| PENGARANG | : | MUHAMMAD YUSYA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-07-30 |
Isobutilena merupakan salah satu empat isomer dari butilena yang berfungsi sebagai bahan baku pembuatan MTBE dan ETBE yang bermanfaat untuk meningkatkan angka oktan bahan bakar. Peluang berkembangnya industri isobutilena di Indonesia cukup besar, maka perlu dilakukan perancangan pabrik isobutilena ini. Pabrik ini direncanakan beroperasi selama 330 hari/tahun dengan kapasitas produksi isobutilena sebesar 25.000 ton/tahun dan beroperasi pada tahun 2031. Bahan baku utama yang diperlukan adalah tersier butil alkohol yang diperoleh dari China. Lokasi yang dipilih untuk mendirikan pabrik ini berada di Jalan Panglima Utar Kumai, Pangkalanbun, Kotawaringin Barat,Kalimantan Tengah dengan luas 26.900 m2. Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 168 orang dan bentuk Perusahaan Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem organisasi garis dan staf.
Produksi isobutilena menggunakan proses dehidrasi tersier butil alkohol dengan bantuan katalis styrene-divinylbenzene pada tekanan 5 atm dan suhu 90°C dengan jenis reaktor yang digunakan adalah fixed bed reactor dan reaksi bersifat endotermis. Bahan baku yang digunakan adalah tersier butil alkohol sebanyak 6.023,163 kg/jam. Proses ini menghasilkan produk utama berupa isobutilena dengan kemurnian 99% yang dimurnikan menggunakan menara distilasi serta produk samping berupa tersier butil alkohol dan air yang akan dipurifikasi kembali dengan absorber untuk menghasilkan tersier butil alkohol kemurnian 90 %.
Kebutuhan unit utilitas pabrik ini meliputi kebutuhan air yang bersumber dari sungai Kapitan dekat lokasi pabrik, sebanyak 150.691,01 kg/jam. Adapun kebutuhan listrik yang diperlukan untuk operasional pabrik adalah sebesar 439,52 kW yang disuplai oleh generator sebesar 110,67 kW serta PLN sebesar 328,85 kW. Pada operasional unit pada pabrik ini membutuhkan pasokan bahan bakar berupa solar dengan kuantitas 155,479 kg/jam untuk menjamim keberlangsungan proses pabrik.
Berdasarkan perhitungan evaluasi ekonomi untuk pendirian pabrik isobutilena dibutuhkan modal tetap sebesar Rp694.827.484.499 sedangkan untuk modal kerja sebesar Rp177.497.702.444. Didapatkan nilai Return of Investment (ROI) sesudah pajak sebesar 11%, Pay Out Time (POT) sesudah pajak selama 4,86 tahun. Sedangkan nilai Break Even Point (BEP) sebesar 49,25% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 20,85% serta tingkat Discounted Cash Flow Rate sebesar 8,78%. Keuntungan yang diperoleh dari pendirian pabrik ini sesudah pajak adalah sebesar Rp57.452.791.776 dengan persentase Profit on Sales sebesar 7%.
Nilai-nilai tersebut menunjukan bahwa pabrik ini bisa dipertimbangkan pendiriannya dan dapat diteruskan ke tahap perencanaan pabrik. Proyeksi keuntungan yang stabil, tingkat pengembalian modal yang cepat, serta risiko kerugian yang minim merupakan jaminan bahwa prospek prarancangan pabrik ini sangat baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pabrik ini layak untuk didirikan.
Kata kunci: dehidrasi, tersier butil alkohol, isobutilena, fixed bed reactor, styrene-divinylbenzene
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI