DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Kondisi Sosial Ekonomi Petani Cabai Keriting di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru
PENGARANG:DEVY OKTAVIA MULAWIJAYA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-07-30


Kelurahan Syamsudin Noor merupakan salah satu sentra hortikultura di Kota Banjarbaru, dengan cabai keriting sebagai salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan. Keberhasilan usahatani cabai keriting tidak hanya dipengaruhi oleh aspek teknis budidaya, tetapi juga oleh kondisi sosial dan ekonomi petani sebagai pelaku usahatani. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi sosial ekonomi petani cabai keriting di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 sampai dengan Mei 2026. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi hortikultura di Kota Banjarbaru. Populasi penelitian adalah petani yang mengusahakan tanaman cabai di Kelurahan Syamsudin Noor berdasarkan data Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Landasan Ulin sebanyak 126 petani. Penarikan contoh menggunakan purposive sampling dengan kriteria petani yang aktif mengusahakan cabai keriting pada tahun 2025, baik yang sedang menjalankan maupun telah menyelesaikan satu musim tanam, sehingga diperoleh 42 responden. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait dan berbagai sumber pustaka. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata, nilai minimum, dan nilai maksimum.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani berada pada usia produktif, memiliki tingkat pendidikan formal jenjang dasar hingga menengah, serta rata-rata pengalaman berusahatani selama 8,5 tahun. Sebagian besar petani memperoleh dukungan keluarga, memiliki akses terhadap informasi pertanian, serta mengikuti pelatihan dan penyuluhan. Dari sisi ekonomi, usahatani cabai keriting merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian besar responden, dengan sumber pembiayaan yang didominasi modal sendiri dan status penguasaan lahan yang didominasi sistem pinjam pakai. Rata-rata penerimaan usahatani sebesar Rp36.895.833 per musim tanam dan rata-rata pendapatan sebesar Rp27.324.405 per musim tanam. Petani masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga jual hasil panen dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sementara sebagian besar belum menerapkan pencatatan usahatani secara rutin. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pelatihan dan penyuluhan yang telah berjalan aktif belum sepenuhnya diikuti oleh penerapan pencatatan usahatani. Selain itu, meskipun usahatani cabai keriting menjadi sumber mata pencaharian utama, status penguasaan lahan masih didominasi sistem pinjam pakai.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI