DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Penilaian Kualitas Perumahan Menggunakan Pendekatan Six Sigma (Studi Kasus : Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Di Kota Banjarmasin)
PENGARANG:AKHMAD FAUZI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-05


Kualitas Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sering kali tidak memenuhi standar kelayakan bangunan untuk hunian, yang ditandai dengan berbagai variasi kualitas atau cacat konstruksi (defect). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi item konstruksi yang tidak memenuhi standar kelayakan, menganalisis tingkat kualitas perumahan menggunakan pendekatan Six Sigma, serta merumuskan strategi peningkatan kualitas bangunan. Standar yang digunakan sebagai acuan dasar penilaian fisik adalah Construction Quality Assessment System (CONQUAS) dan Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat.

Penelitian ini dilakukan secara deskriptif pada 25 unit rumah (tipe 36) yang telah dihuni dan dibangun pada rentang tahun 2023–2024 di dua lokasi perumahan MBR di Kota Banjarmasin. Evaluasi kualitas dilakukan menggunakan tahapan analisis Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC). Identifikasi cacat di lapangan dianalisis lebih lanjut untuk mencari akar masalah menggunakan alat bantu Diagram Pareto dan Diagram Fishbone melalui hasil observasi dan kuesioner yang ditujukan kepada pihak pengembang dan kontraktor.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kualitas produk perumahan masih tergolong rendah, dengan rata-rata level sigma unit rumah hanya mencapai 2,02 dan rata-rata level sigma variasi kualitas sebesar 2,07. Nilai sigma yang berada di bawah angka 3 tersebut mengindikasikan lemahnya pengendalian mutu selama proses konstruksi. Cacat konstruksi didominasi oleh tidak adanya ventilasi, ukuran ruang yang tidak sesuai standar, serta buruknya finishing lantai, dinding, dan pintu, yang berakar pada kurangnya penerapan manajemen kualitas, lemahnya inspeksi teknis, kurangnya penerapan standar Rumah Sederhana Sehat pada desain, rendahnya mutu material, daya dukung tanah rawa yang rendah, serta terbatasnya tenaga kerja terampil. Strategi peningkatan kualitas yang direkomendasikan pada fase improve mencakup kewajiban Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK), rapat koordinasi teknis rutin, stabilisasi tanah dasar, pencantuman spesifikasi material pada Surat Perjanjian Kerja (SPK), reviu desain oleh tenaga ahli, serta penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengawasan pelaksanaan pekerjaan. Rekomendasi tersebut dilengkapi dengan usulan mekanisme pengendalian pada fase control berupa standardisasi SOP, inspeksi berkala, pelatihan berkelanjutan, monitoring keluhan pasca serah terima, serta evaluasi berkala

Kata Kunci: Perumahan MBR, Manajemen Kualitas, Six Sigma, CONQUAS, Rumah Sederhana Sehat, Cacat Konstruksi.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI