DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TRADISI BAARAK NAGA DI DESA BARIKIN KECAMATAN HARUYAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH | |
| PENGARANG | : | NOR APIPAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-08-06 |
Nor Apipah, 2026. Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Baarak Naga di Desa Barikin Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Syaharuddin, S.Pd., M.A.; (2) Dewicca Fatma Nadilla, M.Pd., M.AP.
Tradisi Baarak Naga merupakan prosesi mengarak pengantin menggunakan ornamen berbentuk naga dalam rangkaian walimah perkawinan masyarakat Banjar di Desa Barikin, sebagai hasil akulturasi kepercayaan Hindu, Tionghoa, dan nilai-nilai Islam. Keberlangsungannya menghadapi tantangan berupa arus modernisasi, lemahnya regenerasi pengetahuan kepada generasi muda, dan minimnya dokumentasi resmi, sementara kajian mengenai persepsi masyarakat terhadap tradisi ini masih sangat terbatas, padahal persepsi menjadi faktor penentu keberlangsungan suatu tradisi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Baarak Naga, menganalisis makna filosofisnya, serta mendeskripsikan persepsi masyarakat Desa Barikin berdasarkan latar belakang pendidikan dan usia. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif, dilaksanakan di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada Mei–Juni 2026, dengan data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur terhadap dalang, akademisi, dan masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia, serta observasi dan studi dokumentasi, yang dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Baarak Naga terdiri atas tahap pra-pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan yang mengalami adaptasi sarana pengangkut dari jukung menjadi kendaraan bermotor tanpa mengubah esensi ritual. Secara filosofis, tradisi ini sarat makna akulturatif Hindu-Tionghoa-Islam yang tercermin dalam ornamen kepala naga, kain kuning, dan piduduk. Persepsi masyarakat bervariasi menurut tingkat pendidikan dan usia: kelompok pendidikan dasar menekankan komponen afektif-konatif dari pengalaman langsung, kelompok menengah berada pada posisi peralihan, dan kelompok sarjana memaknainya secara historis-reflektif. Meski beragam, seluruh informan sepakat bahwa tradisi ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan layak dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Banjar.
Kata Kunci: Persepsi Masyarakat, Baarak Naga, Tradisi Perkawinan, Budaya Banjar
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI