DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Strategi Komunikasi Kesehatan Puskesmas Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Dalam Penanganan Kasus Stunting
PENGARANG:NAJWA NAILUFAR ANERIYAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-06


ABSTRAK

Najwa Nailufar Aneriyah, NIM 2210412200018 Tahun 2026, mengangkat topik “Strategi Komunikasi Kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Puskesmas Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu dalam Penanganan Kasus Stunting.” Penelitian ini dibimbing oleh Muhammad Ainani, S.IP., M.A.

 

Stunting merupakan permasalahan krusial dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Di Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, angka stunting mengalami penurunan signifikan dari 3,87% pada tahun 2023 menjadi 1,79% pada tahun 2024. Puskesmas Kecamatan Kusan Hilir sebagai satu-satunya fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menaungi 21 desa dan 1 kelurahan memegang peran sentral dalam penyampaian informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menguraikan serta menganalisis strategi komunikasi kesehatan yang diterapkan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Kusan Hilir dalam penanganan kasus stunting. Pendekatan penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menelusuri pelaksanaan komunikasi kesehatan di lapangan dengan menggunakan teori Health Belief Model (HBM) sebagai kerangka analisis.

Dalam melakukan analisis berdasarkan tahapan strategi komunikasi Ariffin (2008), ditemukan bahwa tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Kusan Hilir menerapkan strategi komunikasi yang melibatkan empat tahapan. Pertama, pengenalan khalayak dengan menetapkan sasaran utama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita usia 0–59 bulan dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kedua, penyusunan pesan dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, termasuk penggunaan bahasa Bugis, serta memuat aspek preventif dan penanganan stunting sekaligus. Ketiga, metode komunikasi efektif seperti informatif, edukatif, persuasif, dan pengulangan (repetition) diterapkan melalui kegiatan rutin bulanan berupa penyuluhan dan pemberian makanan tambahan (PMT). Keempat, pemilihan media komunikasi difokuskan pada komunikasi langsung (face to face) sebagai sarana utama karena dinilai paling efektif menjangkau masyarakat dengan keterbatasan akses digital. Dalam perspektif HBM, kegiatan rutin berfungsi sebagai pemicu tindakan (cues to action) dan komunikasi yang mudah dipahami mampu meningkatkan keyakinan diri masyarakat (self-efficacy). Hambatan yang ditemukan meliputi hambatan perseptual berupa mispersepsi terhadap program PMT dan kondisi fisik anak, hambatan kognitif berupa kesenjangan pemahaman, serta hambatan struktural berupa keterbatasan ekonomi, sanitasi, dan akses air bersih yang berada di luar kendali puskesmas. Meskipun demikian, kedekatan sosial dan kepercayaan antara tenaga kesehatan dengan masyarakat membentuk communication resilience yang menjaga keberlangsungan partisipasi masyarakat dalam program penanganan stunting.

Kata Kunci: Strategi Komunikasi Kesehatan, Stunting, Puskesmas, Health Belief Model, Komunikasi Interpersonal

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI