DIGITAL LIBRARY



JUDUL:STRUKTUR NARASI DAN REPRESENTASI MEMORI KOLEKTIF DALAM CERITA PERJUANGAN PANGLIMA WANGKANG
PENGARANG:MEGAWATI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-10


Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur narasi dan representasi memori kolektif dalam cerita perjuangan Panglima Wangkang pada buku Wangkang Sang Hulubalangkarya HeliusSjamsuddin.Penelitianberfokus padahubunganstruktur narasi dengan proses pembentukan memori kolektif. Kebaruan penelitian terletak pada analisis tahapan transformasi alur sebagai proses naratif yang membentuk, mewariskan, dan mentransformasikan memori kolektif masyarakat terhadap perjuangan Panglima Wangkang.

 

Penelitianinimenggunakan pendekatan kualitatifdengan metodeanalisisisi.Data berupa kata, kalimat, dialog, dan narasi dalam Wangkang Sang Hulubalang. Data pendukungdiperoleh melaluiobservasi, dokumentasi,danwawancara dengan tiga informan. Pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Struktur narasi dianalisis menggunakan teori Tzvetan Todorov, sedangkan memori kolektif dianalisis berdasarkan perspektif Maurice Halbwachs dan Jan Assmann. Analisis data dilakukan melaluikondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur narasi berkembang melalui lima tahapan transformasi alur, yaitu equilibrium, disruption, recognition, attempt to repair, dan new equilibrium. Tahapan tersebut berkaitan dengan pembentukan memori kolektif melalui pengalaman sejarah, kesadaran terhadap kolonialisme, perlawanan, keberanian, solidaritas, dan pengorbanan. Memori kolektifdiwariskan melalui cerita dan interaksi sosial, dipertahankan melalui simbol dan praktik budaya, serta mengalami transformasi pemaknaan antargenerasi. Nilai dan amanat perjuangan menjadi bagian dari memori kolektif yang terus diingat dan dimaknai kembali oleh masyarakat.

Berdasarkanhasil penelitian,dapat disimpulkanbahwa strukturnarasi tidakhanya mengorganisasi rangkaian peristiwa, tetapi juga menjadi media pembentukan dan pewarisan memori kolektif. Setiap tahapan transformasi alur berperan mengubah pengalaman sejarah menjadi ingatan bersama. Cerita Panglima Wangkang berperan dalam menjaga kesadaran sejarah, identitas budaya, dan keberlanjutan nilai perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI