DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI KAIN SASIRANGAN BERDASARKAN METODE FULL COSTING PADA RUTH OEDI SASIRANGAN BANJARMASIN
PENGARANG:NOORJANAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-10


Penentuan harga pokok produksi merupakan salah satu informasi penting yang digunakan sebagai dasar dalam penentuan harga jual produk dan perhitungan laba usaha. Ketepatan dalam menggolongkan serta membebankan seluruh biaya produksi akan memengaruhi besarnya harga pokok produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu, penerapan metode perhitungan yang tepat diperlukan agar harga pokok produksi dapat mencerminkan biaya produksi yang sesungguhnya. Penelitian ini dilakukan pada Ruth Oedi Sasirangan Banjarmasin yang bergerak di bidang produksi kain sasirangan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perhitungan harga pokok produksi kain sasirangan katun satin berdasarkan metode full costing serta menganalisis perbandingan harga pokok produksi dan laba usaha menurut perhitungan perusahaan dengan metode full costing. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi menggunakan data produksi bulan April 2026. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi, menggolongkan, dan menghitung biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik berdasarkan metode full costing, kemudian membandingkan hasil perhitungan tersebut dengan perhitungan yang diterapkan oleh perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan belum menghitung harga pokok produksi secara lengkap karena belum menggolongkan seluruh biaya produksi sesuai dengan teori akuntansi biaya. Perusahaan menghitung harga pokok produksi sebesar Rp21.323.000 yang terdiri atas biaya bahan baku sebesar Rp13.323.000 dan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp8.000.000, sehingga harga pokok produksi per lembar sebesar Rp106.615. Sementara itu, berdasarkan metode full costing, harga pokok produksi sebesar Rp21.104.724 yang terdiri atas biaya bahan baku sebesar Rp11.400.000, biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp8.000.000, dan biaya overhead pabrik sebesar Rp1.704.724, sehingga harga pokok produksi per lembar sebesar Rp105.524. Terdapat selisih harga pokok produksi sebesar Rp218.276 yang disebabkan oleh perbedaan penggolongan biaya, yaitu perusahaan belum membebankan seluruh biaya overhead pabrik dan masih memasukkan biaya nonproduksi ke dalam biaya produksi. Perbedaan tersebut juga berdampak pada laba usaha, di mana laba menurut perusahaan sebesar Rp2.677.000, sedangkan berdasarkan metode full costing sebesar Rp2.645.276. Dengan demikian, metode full costing menghasilkan perhitungan harga pokok produksi yang lebih lengkap dan akurat karena seluruh unsur biaya produksi diperhitungkan, sehingga dapat menjadi dasar yang lebih tepat dalam penentuan harga jual dan pengukuran laba usaha.

 

Kata kunci: harga pokok produksi, full costing, biaya produksi, laba usaha, UMKM.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI