DIGITAL LIBRARY



JUDUL:EFEK EKSTRAK DAUN LAKUM AIR (Ludwigia octovalvis) TERHADAP IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila
PENGARANG:SITI AMINAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-13


ABSTRAK

SITI AMINAH. 2026. “Efek Ekstrak Daun Lakum Air (Ludwigia octovalvis) terhadap Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) yang Diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila: Pembimbing (1) Dr. Siti Aisiah, S.Pi., M.P. dan Pembimbing (2) Prof. Dr. Ir. Fatmawati, M.Si.

 

Kata Kunci: Ludwigia octovalvis, Fitokimia, Aeromonas hydrophila, Clarias gariepinus, Histopatologis, Hematologis

 

Pemanfaatan tumbuhan obat lokal sebagai agen terapeutik alami kini menjadi fokus penting dalam mengatasi penyakit Motile Aeromonad Septicemia (MAS) pada budidaya ikan lele sangkuring (Clarias gariepinus). Tumbuhan lakum air (Ludwigia octovalvis) merupakan salah satu vegetasi yang berpotensi karena memiliki kekayaan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kandungan metabolit sekunder daun L. octovalvis secara kuantitatif serta menguji efek ekstrak dalam memulihkan kondisi biologis dan hematologis ikan lele sangkuriang yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan pada perendaman menggunakan ekstrak akuades daun L. octovalvis dosis 200 ppm (A), 300 ppm (B), 400 ppm (C), kontrol positif/infeksi tanpa ekstrak (D), dan kontrol negatif/tanpa infeksi dan tanpa ekstrak (K). Tahapan penelitian in vitro meliputi uji aktivitas antibakteri, Minimum Inhibitory Concentration (MIC), analisis fitokimia kuantitatif, uji tantang (in vivo) melalui penyuntikan bakteri secara intramuscular, pengobatan sistem perendaman selama 6 jam, serta pemeliharaan ikan selama 14 hari. Hasil uji antibakteri in vitro menunjukkan pelarut akuades menghasilkan zona hambat bakterisidal yang lebih besar (9,8 mm) dibandingkan pelarut metanol (3,3 mm). Uji MIC menunjukkan konsentrasi minimal 100–200 ppm bersifat bakteriostatik, sedangkan konsentrasi 300–1000 ppm bersifat bakterisidal terhadap A. hydrophila. Analisis fitokimia kuantitatif mendeteksi kandungan metabolit sekunder berupa terpenoid (228,467 mg/g), flavonoid (91,667 mg/g), fenolik (65,467 mg/g), steroid, saponin, alkaloid, dan tanin. Secara in vivo, perendaman ekstrak mampu meningkatkan kelangsungan hidup ikan A (83,33%), B (90%), C (93,33%) dibandingkan D (73,33%), meskipun secara statistik memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P > 0,05). Histopatologis juga memperlihatkan tingkat kerusakan jaringan yang lebih ringan pada organ hati dan ginjal ikan yang diobati dibandingkan dengan kontrol positif yang mengalami nekrosis dan hemoragi parah. Parameter hematologis, pemberian ekstrak terbukti efektif memperbaiki profil darah ikan pasca-infeksi melalui pemulihan jumlah sel darah merah (eritrosit), kadar hemoglobin, nilai hematokrit, serta menekan lonjakan sel darah putih (leukosit) menuju ambang normal. Kualitas air pada penelitian ini masih dalam rentang yang sesuai dengan standar kebutuhan hidup ikan lele sangkuriang dan tidak mempengaruhi parameter penelitian lainnya.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI