DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Kualitas Pelayanan Pendidikan Inklusif Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Kota Banjarmasin | |
| PENGARANG | : | MUHAMMAD NUR AFIN | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-08-14 |
Muhammad Nur Afin, 2210411110029, 2026. Kualitas Pelayanan Pendidikan Inklusif pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Kota Banjarmasin. Dibawah bimbingan Sugeng Karyadi.
Pendidikan inklusif merupakan bentuk pelayanan pendidikan yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. SMP Negeri 10 Kota Banjarmasin merupakan salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang memiliki jumlah peserta didik berkebutuhan khusus cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan pendidikan inklusif pada SMP Negeri 10 Kota Banjarmasin serta faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Guru Pendamping Khusus (GPK), orang tua peserta didik berkebutuhan khusus, dan peserta didik berkebutuhan khusus. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, sedangkan teori yang digunakan adalah teori kualitas pelayanan menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry yang meliputi dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan pendidikan inklusif pada SMP Negeri 10 Kota Banjarmasin secara umum telah berjalan baik. Pada dimensi tangibles, sekolah telah menyediakan fasilitas pendukung seperti Ruang Pintar dan layanan pendampingan, meskipun masih terdapat keterbatasan beberapa sarana khusus. Pada dimensi reliability, sekolah memberikan pelayanan secara konsisten melalui Guru Pendamping Khusus, kurikulum adaptif, asesmen kebutuhan peserta didik, dan layanan pendukung lainnya. Pada dimensi responsiveness dan assurance, guru serta Guru Pendamping Khusus menunjukkan kemampuan dalam memberikan pendampingan, menyesuaikan pembelajaran, serta menciptakan rasa aman dan kepercayaan bagi peserta didik maupun orang tua. Sementara itu, pada dimensi empathy, guru menunjukkan perhatian dan kepedulian melalui pendekatan individual serta komunikasi yang baik dengan orang tua. Faktor penghambat yang ditemukan meliputi keterbatasan sarana dan prasarana khusus, keterbatasan jumlah Guru Pendamping Khusus, serta beragamnya karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sarana dan prasarana, penambahan Guru Pendamping Khusus, serta penguatan kerja sama antara sekolah dan Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan inklusif.
Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pendidikan Inklusif, SMP Negeri 10 Kota Banjarmasin.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI