DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS DISTRIBUSI SPASIAL HABITAT BEKANTAN (Nasalis larvatus) MENGGUNAKAN MAXIMUM ENTROPY (MAXENT) DI KECAMATAN TABUNGANEN
PENGARANG:DITA MAHALLENI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-19


Dita Mahalleni. 2026. Analisis Distribusi Spasial Habitat Bekantan (Nasalis larvatus) Menggunakan Maximum Entropy (MaxEnt) di Kecamatan Tabunganen. Skripsi, Program Studi Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing: Selamat Riadi, S.Pd., M.Pd.

Analisis distribusi spasial habitat bekantan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi keberadaan bekantan (Nasalis larvatus) di Kecamatan Tabunganen serta memodelkan tingkat kesesuaian habitat menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt). Informasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam mendukung upaya konservasi dan pengelolaan habitat bekantan secara berkelanjutan.

Metode deskriptif kuantitatif berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) diterapkan dalam penelitian ini dengan teknik purposive sampling menggunakan 18 titik kehadiran bekantan sebagai data utama. Variabel lingkungan yang dianalisis meliputi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), elevasi, kemiringan lereng (slope), jarak dari sungai, jarak dari permukiman, jarak dari sawah, dan jarak dari kebun. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan Maximum Entropy (MaxEnt) untuk menghasilkan model distribusi serta peta kesesuaian habitat bekantan.

Model Maximum Entropy menghasilkan nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,936 yang menunjukkan tingkat akurasi sangat baik. Variabel yang memberikan kontribusi terbesar terhadap model adalah jarak dari sawah (64,7%), diikuti oleh jarak dari kebun (14,2%), jarak dari sungai (9,3%), kemiringan lereng (4,0%), jarak dari permukiman (3,5%), elevasi (2,9%), dan NDVI (2,5%). Habitat bekantan di Kecamatan Tabunganen didominasi oleh kelas kesesuaian rendah, sedangkan habitat dengan tingkat kesesuaian sedang hingga tinggi terkonsentrasi di kawasan yang berdekatan dengan sungai, vegetasi mangrove, dan kawasan konservasi. Distribusi habitat bekantan dipengaruhi oleh kombinasi faktor alami dan faktor antropogenik dengan jarak dari sawah sebagai variabel yang paling dominan. Temuan penelitian memberikan dasar ilmiah bagi penyusunan strategi konservasi, perlindungan habitat, serta pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan guna mendukung kelestarian bekantan di Kecamatan Tabunganen.

Kata kunci: Bekantan (Nasalis larvatus), Maximum Entropy (MaxEnt), kesesuaian habitat, distribusi spasial, Sistem Informasi Geografis (SIG), Kecamatan Tabunganen.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI